Tag Archives: buku

Tangerang

Logo_kab_tangerangTangerang sebagai nama tempat adalah ejaan salah warisan Belanda. Semestinya ditulis dan diucapkan: Tanggeran.

Jalan Raya Pos dengan sejumlah tikungan ke tenggara dan timurlaut sejauh lebih dari 50 kilometer membawa orang sampai ke Tangerang. Wilayah ini pernah jadi pemusatan para pemberontak yang berhasil menggulingkan Ratu Fatimah, gadis Arab itu, dari kesultanan Banten. Pemimpinnya yang kharismatik, Kyai Tapa, meluaskan perlawanannya terhadap Kompeni Belanda sampai ke seluruh Priangan, dan untuk waktu lama mengusik tanampaksa kopi, darah hidup Kompeni. Continue reading

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

jrp-jd2

Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

-Pramoedya Ananta Toer-

Di atas adalah kata-kata dari Pram. Dari bukunya “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” disimpulkan bawha kita adalah bangsa kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa yang penguasanya lebih asik memupuk-mupuk ambisi berkuasa daripada mengerai kesejahteraan bagi warganya. (hal 6).

Pram menulis buku ini dengan nuansa mengalir dan tidak dibagi ke dalam bab tetapi dibagi berdasarkan kota-kota sepanjang Jalan Pos yang dilewati olehnya. Pram menceritakan sejarah kota secara detail dan beberapa kenangan pribadinya di kota-kota itu. Continue reading

Sejarah Keturunan Tionghoa Di Indonesia

Ini ada artikel menarik yang membahas asal mula keturunan Tionghoa di Aisa Tenggara khususnya Indonesia.

Kami kutib dari buku “The 6th overseas Chinese state”, Nanyang Huaren, CSEAS, J.C.Univ. of N-Queensland, Australia 1990, penyunting Sie Hok Tjwan tentang: 1) Palembang 2) Demak, Banten, Cirebon 3) Kalimantan Barat (babak 7 halaman 65 – 99) sbb: Continue reading

Incoming search terms:

  • sejarah cina di indonesia
  • sejarah tionghoa di indonesia
  • sejarah tiongkok
  • sejarah china di indonesia

Mangir

NPA009-MANGIR-Drama-Pramoedya Ananta Toer melalui Mangir menceritakan perseteruan antara Kerajaan Mataram dengan Perdikan Mangir. Di dalam bukunya PAT memaparkan kelicikan, ketulusan cinta, busuknya politik, dan kesetiaan manusia.

Yang paling aku suka dari cerita Mangir adalah kisah cinta antara Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Sekar Pembayun. Pada awalnya Sekar Pembayun membantu ayahnya untuk  menjebak Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan cara mencuri hatinya. Ternyata bukan hanya hati Ki Ageng Mangir Wanabaya yang berhasil dicurinya tetapi hati Sekar Pembayun juga ikut tercuri oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya. Continue reading

Incoming search terms:

  • arti nama pembayun