<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nukilan Hidup &#187; Wayang</title>
	<atom:link href="http://nukilan.com/category/wayang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nukilan.com</link>
	<description>Ketika petikan kata-kata menjadi sebuah blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 14:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Arti Kepala Hitam Di Perwayangan</title>
		<link>http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 06:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Sering dijumpai karakter wayang yang kepalanya diberi warna hitam. Warna hitam tersebut merupakan tanda sebagai pembeda kalau karakter wayang tersebut adalah titisan Dewa Wisnu.



Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Semata Wayang'>Semata Wayang</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering dijumpai karakter wayang yang kepalanya diberi warna hitam. Warna hitam tersebut merupakan tanda sebagai pembeda kalau karakter wayang tersebut adalah titisan Dewa Wisnu.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Semata Wayang'>Semata Wayang</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewa Rutji</title>
		<link>http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 07:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Ketika itulah muncul Dewa Ruci yang sangat kasihan melihat Bima. Ia memancarkan sinar cemerlang yang menyebabkan Bima siuman. Alangkah kagetnya Bima melihat seorang manusia yang sangat kecil namun sangat mirip dengan dirinya. Manusia itu berkata, "Aku ini Dewa Ruci yang disebut juga Nawaruci. Aku datang untuk menolongmu Bimasena. Wahai kesatria perkasa, masuklah ke dalam telingaku. Di dalam diriku, engkau akan menemukan apa yang kaucari'."


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bima'>Bima</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/batara-ruci1.jpg"><img class="alignleft" title="batara-ruci1" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/batara-ruci1-215x300.jpg" alt="batara-ruci1" width="215" height="300" /></a>Mahaguru Dorna memanggil Bima menghadap dan memberi dia tugas untuk mencari tirtha prawidhi atau air suci kehidupan. Katanya, &#8220;Wahai, muridku Bima yang perkasa, pergilah engkau mencari tirtha prawidhi. Carilah sampai dapat. Jangan kembali jika belum berhasil. Ketahuilah, barang siapa memiliki tirtha prawidhi, dia akan dapat memahami hidup ini dan akan mampu mengenal asal, arah dan tujuan hidup manusia, yaitu sangkan paraning dumadi. Pergilah anakku. Jangan pernah ragu, karena orang yang ragu takkan pernah berhasil.&#8221;<span id="more-305"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bima memang orang yang tidak pernah banyak pikir sebelum bertindak. Setelah minta izin dengan ibunya, Dewi Kunti, ia pun berangkat. Dalam pikiran Bima tidak terlintas rencana busuk yang dibuat oleh Kurawa untuk mencelakakan dirinya. Di perjalanan mencari tirtha prawidhi, Bima tidak perduli pada binatang buas, raksasa, setan atau jin yang mengganggunya dalam pengembaraan. Semua berhasil dikalahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari ketemulah Bima dengan dua raksasa sakti, Rukmukha dan Rukmakhala. Ia menantang kedua raksasa itu untuk berkelahi. Tantangan diterima. Ia menerjang kedua raksasa itu. Keduanya tewas seketika. Begitu terbanting ke tanah, kedua raksasa itu menjelma menjadi Batara Indra dan Batara Bayu, yaitu ayah Bima sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Batara Indra memberinya mantra Jalasengara dan Batara Bayu memberinya satu ikat pinggang sakti. Kedua hadiah itu akan menjadi bekal baginya untuk mengarungi samudera paling dalam di mana pun di dunia. Kemudian Batara Bayu memberinya petunjuk bahwa air hidup yang dimaksud terletak di dalam Telaga Gumuling, di tengah rimba Palasara. Di dalam rimba belantara itu Bima harus menghadapi seekor naga raksasa sebesar Gunung Semeru yang bernama Anantaboga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima mengucapkan terima kasih, lalu pergi ke rimba Palasara. Sampai di tepi Telaga Gumuling, Bima disambut oleh naga raksasa Anantaboga yang langsung menyerangnya. Naga itu mengibas-ibaskan ekornya dan membelit badan kesatria Pandawa itu. Dengan Pancanaka, kuku ibu jarinya yang sakti, Bima menusuk leher Anantaboga dan memutus tali nyawanya. Anantaboga menggelepar-gelepar sebentar, lalu menggeletak mati, tak bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaib. Mayat Anantaboga lenyap, menjelma menjadi Dewi Maheswari. Sesungguhnya Dewi Maheswari adalah bidadari yang di-kutuk-pastu oleh Sang Hyang Guru Pramesti. Ia terpaksa menjalani hukuman sebagai naga raksasa. Dari Dewi Maheswari, Bima mendapat petunjuk di mana ia bisa menemukan tirtha prawidhi, yaitu di dasar samudera raya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mantra Jalasengara pemberian Batara Indra, Bima mengarungi Samudera Selatan yang penuh gelombang bergulung-gulung setinggi gunung. Di dalam samudera itu ia harus menghadapi naga besar Nawatnawa yang menyemburkan hujan berbisa. Tetapi, berkat apa yang dialaminya di Sungai Gangga, badannya menjadi kebal. Dan berkat ikat pinggang pemberian Batara Bayu, ia bisa mengambang di samudera raya. Dengan tangkas ia menaklukkan Nawatnawa, mencekiknya, dan menusuk lehernya dengan kuku Pancanaka. Seketika itu, matilah Nawatnawa. Tetapi, setelah tiga pertarungan berat itu, Bima menjadi sangat lelah. Ia membiarkan dirinya diombang-ambingkan gelombang raksasa dan dihempaskan ke sebuah karang emas. Seorang diri, tanpa pertolongan siapa pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itulah muncul Dewa Ruci yang sangat kasihan melihat Bima. Ia memancarkan sinar cemerlang yang menyebabkan Bima siuman. Alangkah kagetnya Bima melihat seorang manusia yang sangat kecil namun sangat mirip dengan dirinya. Manusia itu berkata, &#8220;Aku ini Dewa Ruci yang disebut juga Nawaruci. Aku datang untuk menolongmu Bimasena. Wahai kesatria perkasa, masuklah ke dalam telingaku. Di dalam diriku, engkau akan menemukan apa yang kaucari&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bima heran sekali mendengar perintah manusia mungil itu. Bagaimana mungkin tubuhku yang sebesar ini bisa masuk merasuk ke dalam tubuhnya yang sekecil itu? pikirnya terheran-heran. Ketika Bima masih ragu-ragu, Dewa Ruci berkata, &#8220;Sesungguhnya, tempat ini adalah tempat yang kosong dan sunyi, tak ada apa-apa, tak ada busana atau pakaian, tak ada boga atau makanan. Semua serba sempurna. Ketahuilah, selama ini engkau hanya setia pada ucapan, mengabdi pada gema, yaitu bentuk segala kepalsuan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Uraian hakikat hidup yang gaib itu membuat Bima tercengang, tak kuasa berkata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewa Ruci melanjutkan, &#8220;Siapakah yang lebih besar, wahai Panduputra, engkau atau alam semesta yang ada di dalam tubuhku? Aku adalah jagad besar atau makrokosmos dan engkau adalah jagad kecil atau mikrokosmos yang ada di dalam aku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bima yang semula ragu, apakah dia akan bisa masuk ke dalam lubang telinga Dewa Ruci, menjadi mantap setelah mendengar uraian ringkas itu. Tanpa ragu ia melaksanakan perintah manusia mungil itu. Begitu memasuki telinga Dewa Ruci, Bima merasa seakan-akan berada di alam kosong, berhadapan dengan suatu wujud berbentuk gading yang memancarkan sinar putih, merah, kuning, dan hitam perlambang jiwa manusia dengan sifat-sifat murninya. Sinar putih melambangkan kemurnian budi, sinar merah melambangkan watak berangasan dan lekas marah, sinar kuning melambangkan keinginan-keinginan manusiawi, dan sinar hitam melambangkan angkara murka dan keserakahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Bima melihat tiga wujud seperti boneka dari emas, gading dan permata. Ketiganya melambangkan tiga dunia. Masing-masing disebut Inyanaloka atau lambang badan jasmani, Guruloka atau lambang alam kesadaran, dan Indraloka atau lambang dunia rohani. Demikianlah, di dalam tubuh Dewa Ruci, Bima mendengarkan penjelasan panjang lebar tentang hakikat manusia dengan segala nafsunya dan hakikat alam semesta yang terbagi menjadi tiga tataran.<br />
Kemudian, tanpa disadarinya, Dewa Ruci yang gaib dan agung itu lenyap dari mata batinnya. Bima tersadar. Tahulah Bima bahwa dia telah menemukan apa yang harus dicarinya, vaitu tirtha prawidhi, air suci atau air kehidupan, perlambang hakikat dirinya dan hakikat alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima seorang yang tidak pernah menggunkana bahasa halus pada siapapun bahkan dengan dewa sekalipun tutur bahasanya tetap kasar. Hanya pernah sekali Bima bertutur bahasa halus yaitu ketika berbicara dengan Dewa Ruci. Dewa Ruci berarti juga dewa yang halus. Dewa Ruci ialah halusnya Bima.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima beristri Dewi Nagagini dan Dewi Arimbi. Anantasena anak tertua Bima dari Dewi Nagagini dan Gatotkaca anak dari Dewi Arimbi.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bima'>Bima</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raden Anantasena</title>
		<link>http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 07:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Pernah satu kala Pandawa ditipu dan hendak dibakar hidup-hidup oleh Kurawa. Namun berkat peringatan Raden Jamawidura, paman dari Pandawa dan Kurawa, Pandawa cepat menyelamatkan diri. Namun Pandawa tidak kuasa menghindar dari tipu daya Kurawa. Karena kemurahan dewa, Pandawa dapat meloloskan diri ke dalam perut bumi dengan mengikuti seekor garangan (sebangsa musang) putih, hingga bertemu dengan Hyang Antaboga. Kemudian Bima yang waktu itu bernama Raden Bratasena dikawinkan dengan Dewi Nagagini, dan berputra seorang laki-laki bernama Raden Anantaredja atau Anantasena. Anantasena merupakan anak tertua dari Bima.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2009/10/a26_antareja_triwikrama.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-300" title="a26_antareja_triwikrama" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2009/10/a26_antareja_triwikrama-241x300.jpg" alt="a26_antareja_triwikrama" width="241" height="300" /></a>Pernah satu kala Pandawa ditipu dan hendak dibakar hidup-hidup oleh Kurawa. Namun berkat peringatan Raden Jamawidura, paman dari Pandawa dan Kurawa, Pandawa cepat menyelamatkan diri. Namun Pandawa tidak kuasa menghindar dari tipu daya Kurawa. Karena kemurahan dewa, Pandawa dapat meloloskan diri ke dalam perut bumi dengan mengikuti seekor garangan (sebangsa musang) putih, hingga bertemu dengan Hyang Antaboga. Kemudian Bima yang waktu itu bernama Raden Bratasena dikawinkan dengan Dewi Nagagini, dan berputra seorang laki-laki bernama Raden Anantaredja atau Anantasena. Anantasena merupakan anak tertua dari Bima.<span id="more-299"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah besar Anantasena mencari ayahnya, tapi Bima yang waktu itu telah berganti nama menjadi Raden Wrekodara tidak langsung mengakui kalau Anantasena sebagai darah dagingnya. Raden Wrekodara memberikan persyaratan kalau dia baru akan mengakui Anantasena sebagai anaknya kalau dia bisa mengalahkan Raden Wrekodara. Maka Anantasena bersembunyi di dalam perut bumi, ketika ayahnya lewat disergaplah secara tiba-tiba. Dan Raden Wrekodara tidak bisa bergerak dan diakuilah Anantasena sebagai anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau aku hitung-hitung mengenai kehebatan seluruh tokoh dalam cerita Mahabrata, Anantasena dapat dikatakan jagoan yang paling hebat, yang menakutkan, yang tidak ada tandingannya. Bayangkan saja Anantasena hanya perlu menjilat jejak seseorang maka seseorang itu langsung dikirim ke hadapan Batara Yama (dewa kematian). Atas kehendak Sri Krisna ditipulah Anantasena untuk menjilat jejaknya sendiri dan matilah dia. Tindakan Sri Krisa didasari atas perhitungannya kalau nanti pada perang Baratayudha Anantasena tidak akan mendapat lawan tanding.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecewa kan? Aku sangat kecewa atas kematian Anantasena. Waktu aku membaca profil Anantasena aku langsung merinding. Bayangin hanya dengan menjilat bisa membunuh orang. Siapa yang bisa jadi lawannya? Karna dengan Kunta yang dapat membunuh siapa saja? atau Baladewa dengan senjata yang dapat membunuh dewa? Semua bukan lawan Anantasena. Mengerikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan: <strong>Raden Anantaredja adalah nama lain dari Anantasena</strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Arimbi</title>
		<link>http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 07:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Dewi Arimbi seorang puteri Raksasa, saudara Prabu Arimba, seorang raja raksasa di Pringgadani. Di dalam mimpi Dewi Arimbi bertemu dengan Bima, Padawa yang kedua. Maka dicarilah dan ketemulah Bima yang pada saat itu dikenal dengan Raden Bratasena. Setiba Dewi Arimbi dihadpan Raden Bratasena lalu memeluk kaki Raden Bratasena dengan melahirkan kehendaknya.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewa Rutji'>Dewa Rutji</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bima'>Bima</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2009/10/A53-arimbi_solo.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-295" title="A53 arimbi_solo" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2009/10/A53-arimbi_solo-198x300.jpg" alt="A53 arimbi_solo" width="198" height="300" /></a>Dewi Arimbi seorang puteri Raksasa, saudara Prabu Arimba, seorang raja raksasa di Pringgadani. Di dalam mimpi Dewi Arimbi bertemu dengan Bima, Padawa yang kedua. Maka dicarilah dan ketemulah Bima yang pada saat itu dikenal dengan Raden Bratasena. Setiba Dewi Arimbi dihadpan Raden Bratasena lalu memeluk kaki Raden Bratasena dengan melahirkan kehendaknya. Tetapi Raden Bratasena tidak suka, lantaran puteri itu berupa raksasa. Pada waktu mana ibu Raden Bratasena, Dewi kunti bersabda: &#8220;O, kasihan benar kamu anak cantik&#8221;. Sabda Dewi Kunti itu menyebabkan perubahan roman muka Dewi Arimbi jadi secantik-cantiknya. Dipersitrilah oleh Raden Bratasena dan kemudian hari berputra seorang kesatria Raden Gatotkaca.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewa-rutji.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewa Rutji'>Dewa Rutji</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bima'>Bima</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semata Wayang</title>
		<link>http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 02:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm</guid>
		<description><![CDATA[Anak semata wayang artinya anak satu-satunya. Tapi kenapa harus disebut semata wayang untuk menggambarkan ketunggalannya?

Gampang saja karena wayang (kulit) hanya punya satu mata, makanya tunggal atau satu-satunya dilambangkan dengan semata wayang.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Arti Kepala Hitam Di Perwayangan'>Arti Kepala Hitam Di Perwayangan</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/04/Gatotkca.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-286" title="Gatotkca" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/04/Gatotkca.jpg" alt="Gatotkca" width="191" height="320" /></a>Anak semata wayang artinya anak satu-satunya. Tapi kenapa harus disebut semata wayang untuk menggambarkan ketunggalannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Gampang saja karena wayang (kulit) hanya punya satu mata, makanya tunggal atau satu-satunya dilambangkan dengan semata wayang.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/20/arti-kepala-hitam-di-perwayangan.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Arti Kepala Hitam Di Perwayangan'>Arti Kepala Hitam Di Perwayangan</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2008/11/20/semata-wayang.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jabang Tutuka: Lahirnya GatotKaca</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 08:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm</guid>
		<description><![CDATA[Siapa ya Jabang Tutuka itu? Banyak yang tahu nama Gatot Kaca, tapi nama Jabang Tutuka tidak banyak dikenal. Inilah lakon dari Jabang Tutuka alias Gato Kaca alias Kesatria Pringgadani (The Flying Knight Of Pringgadani) alias Kesatria seribu nama.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gatotkaca, the Flying Knight of Pringgadani, son of Bimasena'>Gatotkaca, the Flying Knight of Pringgadani, son of Bimasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/04/Gatotkca.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-286" title="Gatotkca" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/04/Gatotkca.jpg" alt="Gatotkca" width="191" height="320" /></a>Siapa ya Jabang Tutuka itu? Banyak yang tahu nama <a href="http://www.nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">Gatot Kaca</a>, tapi nama Jabang Tutuka tidak banyak dikenal. Inilah lakon dari Jabang Tutuka alias <a href="http://www.nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">Gato Kaca</a> alias <a href="http://www.nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">Kesatria Pringgadani</a> (<a href="http://www.nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">The Flying Knight Of Pringgadani</a>) alias Kesatria seribu nama.</p>
<p style="text-align: justify;">Bermula dari kegalauan hati Sang Prabu Nagapercona mengenai pendamping hidupnya. Sang Prabu cemburu dengan rakyatnya yang bersenda gurau dengan istri-istri mereka. Dipanggilah Patih Sekipu dan Sang Prabu Nagapercona membabarkan isi hatinya dan mengatakan bahwa ia ingin meminang Dewi Supraba. Patih Sekipu menyarankan untuk meminta bantuan dari Emban Sekarlaras karena dikenal banyak akalnya. <span id="more-153"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menerima perintah, berangkatlah Emban Serlaras ke Jonggringsalaka untuk menyampaikan lamaran Sang Prabu kepada Dewi Supraba. Batara Guru penguasa Jonggringsalaka merasa alamat buruk dan mengundang para Dewa untuk rapat. Dan meminta penjagaan diperketat.</p>
<p style="text-align: justify;">Emban Sekarlaras pun tiba di Suralaya dan dihadang oleh para dewa. Walaupun Emban Sekarlaras telah menerangkan siapa dirinya dan meminta dipertemukan dengan Batara Guru namun para dewa penjaga tidak mengindahkan dan mengusir Emban Sekarlaras. Pertarungan pun tak dapat dihindari. Dengan kesaktian yang dimiliki Emban Sekarlaras, para dewa pun tidak berkutik melawannya. Akhirnya Batara Bayu turun tangan dan mengerahkan angin topan yang menerbangkan tubuh Emban Sekarlaras hingga jatuh ke bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Gilingwesi, Prabu Nagapercona dan Patihnya membahas kemungkinan yang mungkin terjadi. Tiba-tiba seorang hulubalang melaporkan bahwa Emban Sekarlaras jatuh dari langit. Raja Gilingwesi dan Patih Sekipu segera mencarinya dan ternyata Sekarlaras hanya pingsan. Tidak lama kemudian Sekarlaras siuman dan menceritakan peristiwa yang dialami dan dari muka Prabu tampak api murka karena penghinaan para dewa. Segera Sang Patih disuruh menyiapkan tentara raksasa pilihan dan berangkatlah mereka ke Jonggringsalaka. Setiba di Repat Kepanasan, pasukana raksasa dari Gilingwesi dihentikan oleh para dewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Patih Sekipu meminta dipertemukan dengan Batara Guru, namun Batara Bayu menolak dan panas hatilah Patih Sekipu dan diseranglah para dewa yang sedang menjaga Repat Kepanasan. Korban di kedua belah pihak tidak bisa dihindari, lama kelamaan pasukan para dewa semakin lemah dan tidak kuat membendung kekuatan raksasa Gilingwesi. Dan mundurlah pasukan dewa pimpinan Dewa Bayu menuju Selamanangkep. Dan bersembunyi di dalam benteng kokoh.</p>
<p style="text-align: justify;">Mundurnya pasukan Batara Bayu dilaporkan ke Batara Guru oleh Batara Narada. Batara Guru memerintahkan supaya Batara Narada turun ke mayapada untuk memberikan sejata Konta kepada Arjuna yang ditugaskan oleh Raden Bratasena untuk mencari senjata yang dapat memotong tali pusar Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa Jabang Tutuka telah berumur tiga tahun. Tapi belum ada senjata yang dapat memotong tali pusarnya. Dan dikatakan juga hanya dengan senjata Konta saja yang bisa memotong tali pusar Jabang Tutuka. Batara Guru percaya hanya Jabang Tutuka seorang yang dapat menyingkirkan Prabu Nagapercona dan menyelamatkan Suralaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tesebutlah sebuah negara Tablakancana (Petapralaya) yang dikuasai oleh Prabu Begawan Redaya. Ia mempunyai seorang anak bernama Bambang Aradea. Pada suatu hari Prabu Begawan Redaya ribut dengan Bambang Aradea karena perilaku Raden Aradea yang selalu mencari masalah. Setelah ribut-ribut itu Raden Aradea mengambil keputusan untuk berpetualang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan pada waktu itu, Batara Narada lagi melintas di atas hutan tempat Raden Aradea sedang beristirahat. Batara Narada yang sedang mencari Arjuna melihat Raden Aradea yang sangat mirip dengan Arjuna dan dihampirilah Raden Aradea. Dan berceritalah Batara Narada mengenai tugas yang diembannya. Raden Aradea tahu kalau Batara Narada salah orang dan Raden Aradea berpura-pura menjadi Arjuna. Dan diserahkanlah pusaka Konta kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan Raden Arjuna juga lagi di hutan yang sama. Di perjalanan pulang ke Suralaya, Batara Narada bersua dengan rombongan Raden Arjuna. Terkejutlah Batara Narada. Ternyata dia telah salah orang. Dan diceritakanlah apa yang telah terjadi kepada Raden Arjuna. Semar segera mengetahui bahwa orang yang mirip dengan Raden Arjuna adalah Raden Aradea. Setelah menceritakan semuanya, Batara Narada langsung pulang ke Suralaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bergegaslah Raden Arjuna mencari Raden Aradea. Setelah ketemu, Raden Aradea tidak mau mengakui bahwa ia telah menerima Kunta dari Batara Narada. Kemudian terjadilah perang mulut. Karena tak mau menyerahkan senjata Konta dan takut kesalahannya terbongkar, Raden Aradea menghunuskan Keris Bantalpipi dan menyerang Raden Arjuna, namun Raden Arjuna dapat menghindar. Walaupun Keris Bantalpipi Raden Aradea bisa dipukul jatuh oleh Raden Arjuna. Kesaktian Raden Arjuna masih dibawah Raden Aradea. Pada satu kesempatan Raden Aradea menyarangkan pukulan dan membuat Raden Arjuna pingsan. Setelah mengambil kembali Keris Bantalpipi yang sempat terjatuh, Raden Aradea pun memutuskan untuk minggat. Di saat itulah Raden Aradea hendak melarikan diri, namun ketika ia mau melompat pergi, kakinya dipegang oleh Raden Arjuna. Ia terjatuh dan terjadilah pergumulan. Keduanya sama kuat dan dikisahkan pada saat pergumulan, Raden Arjuna sempat merebut sarung senjata Kunta dari Raden Aradea sebelum Raden Aradea kabur ke dalam kegelapan malam. Dengan kecewa Raden Arjuna pulang ke Amarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Di pagi hari menuju Amarta, rombongan Raden Arjuna dikejutkan dengan munculnya Batara Narada. Batara Narada meminta maaf atas kekeliruannya dan menjelaskan bahwa sarung Konta tetap berguna dan dapat digunakan untuk memotong tali pusar Jabang Tutuka. Mendapat penjelasan dari Batara Narada, Raden Arjuna memutuskan untuk berangkat ke Pringgandani.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Pringgandani, <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasen</a>a sedang pusing tujuh keliling memikirkan nasib anakanya Jabang Tutuka yang sampai sekarang tali pusarnya belum terpotong. <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> akhirnya memutuskan pergi ke Amarta untuk menemui adiknya Raden Arjuna. Waktu hendak berangkat, Batara Kresna mengunjungi Pringgandani. Dan <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> meminta saran karena pikirannya sedang kacau. Batara Kresna meminta Raden Bratasena supaya sabar dan ikhlas menerima semua itu karena semua itu sudah rencana yang maha kuasa. Dan menghibur bahwa nantinya Jabang Tutuka akan menjadi anak yang sakti mandraguna.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena gelisah akan nasib Jabang Tutuka dan Raden Arjuna yang belum ada kabar beritanya, <a href="http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm">Prabu Darmakusuma</a>, Raden Nakula, dan Raden Sadewa berangkat ke Pringgandani untuk memberikan pertolongan untuk mencari Raden Arjuna. Tetapi dilarang oleh Batara Kresna dan meminta semua untuk menunggu Raden Arjuna.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, Raden Arjuna tiba di Pringgandani. Setelah sembah sujud kepada <a href="http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm">Prabu Darmakusuma</a>, <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a>, dan Batara Kresna dan salam kepada Raden Sadewa dan Raden Nakula. <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> berteriak meminta Raden Arjuna menyerahkan senjata yang dapat memotong tali pusar Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Raden Arjuna dengan gugup menjelaskan bahwa yang didapatnya bukan senjata tetapi hanya sarungnya. Meledaklah marah <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a>, hampir-hampir Raden Arjuna kena hajar. Untung ada Batara Kresna yang mencegah dan meminta <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> mendengar penjelasan Raden Arjuna.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memperlihatkan kuku <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Pancanaka</a>-nya, Bratasena berjalan modar-mandir menanti penjelasan dari Raden Arjuna. Arjuna pun menjelaskan dari awal sampai akhir peristiwa yang dialaminya. Semua orang terkagum-kagum dengan sarung senjata Konta, hanya Bratasena yang tidak percaya dengan keampuhannya. Tapi dengan telaten Batara Kresna memberi nasihat supaya tali pusar Jabang Tutuka dicoba potong dengan sarung Konta.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> setuju dan semua yang diperlukan disiapkan. Sedangkan yang lainnya berdoa. Batara Kresna yang ditugaskan untuk memotong tali pusar anaknya. Tali pusar berhasil dipotong tapi kemudian hal yang ajaib terjadi. Sarung Konta tertelan oleh tali pusar Jabang Tutuka. Hal ini membuat histeris semua orang. <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> bergegas menarik keluar sarung itu tapi semakin ditarik semakin masuk ke dalam perut sang bayi. Akhirnya sarung itu masuk sepenuhnya ke dalam perut Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terbayangkan tentang kesedihan <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Dewi Arimbi</a>. Mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut tak dapat berbuat apa-apa, selain memanjatkan doa dihatinya masing-masing. Yang teredengar hanyalah tangisan Jabang Tutuka dan isak <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Dewi Arimbi</a> yang menyayat hati Bratasena. Tiba-tiba lagi muncullah Batara Narada yang datang melihat Jabang Tutuka. Dikatakan pada <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> kalau di masa yang akan datang, Jabang Tutuka akan menjadi sosok pahlawan yang disengani oleh kawan mau pun lawan. Dan diperingati pula supaya hati-hati kalau perang tanding dengan Karna karena hanya senjata Konta milik Karna yang dapat membinasakan Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berjalan dari hari ber ganti hari, bulan berganti bulan. Jabang Tutuka sekarang telah dapat berjalan dan sangat lincah. Semua orang sangat senang dengan kelucuan Jabang Tutuka.  Memang sudah kebiasaan Batara Narada untuk datang dan pergi secara mendadak. Batara Narada muncul dihadapan Jabang Tutuka yang lagi bermain dengan ayahnya. Dan Batara Narada mengatakan bahwa sudah waktunya untuj Jabang Tutuka. Kata-kata itu membuat Bratasena heran dan bertanya apa maksudnya. Dijelaskanlah oleh Batara Narada kalau dirinya membawa tugas untuk meminjam Jabang Tutuka untuk membantu para dewa membasmi keangkaramurkaan Prabu Nagapercona, karena dipercaya raja-raja bahkan dewa-dewa tidak ada yang mampu menaklukkan Raden Nagapercona dan hanya Jabang Tutuka seorang yang dapat menaklukkan Prabu Nagapercona.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka minta izinlah Batara Narada untuk meminjam Jabang Tutuka untuk menghadapi Prabu Nagapercona. Logika saja mana mungkin seorang anak kecil menghadapi musuh yang bahkan para dewa pun tidak sanggup melawan. Bratasena marah kepada kehendak dewa dan mengatakan bahwa anaknya hanya akan digunakan sebagai tumbal. Kebetulan tibalah Batara Kresna yang datang berkunjung untuk menengok Jabang Tutuka. Dan Batara Kresna pun ditempatkan sebagai penengah masalah yang rumit ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Batara Kresna berkata bahwa semua di dunia ini telah diatur oleh Yang Esa. Kebetulan mereka semua medapatkan titipan untuk membina dan menjaga Jabang Tutuka. Dan sekarang para dewata ingin meminjam Jabang Tutuka untuk membasmi keangkaramurkaan. Tiba-tiba saja Jabang Tutuka berkata bahwa dia ingin menjadi pahlawan. Akhirnya direlakanlah anaknya untuk membantu para dewata demi kebaikan umat manusia. <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Bratasena </a>melepaskan Jabang Tutuka dengan ancaman kalau anaknya terluka, dia akan menyerang Suralaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara pasukan Prabu Nagapercona dan pasukannya telah mengepung rapat Selamanangkep dan berusaha mendobrak pintu benteng. Tetapi pintu benteng terlalu kokoh dan akhirnya Prabu Nagapercona hanya bisa menunggu para dewa untuk keluar menghadapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat Prabu Nagapercona tidak sabaran, sambil menunggu dia mencaci maki para dewa. Tiba-tida dari belakang batu gunung terdengan suara tantangan yang ditujukan kepada Prabu Nagapercona. Prabu Nagapercona heran siapa yang berani menghina dia. Dewa saja tidak berani. Di dekatilah tempat asal suara tapi dia tidak ketemu dengan siapa-siapa. Lalu suara hinaan muncul lagi balik batu gunung yang lain. Prabu Nagapercona mengejar ke situ dan tetap tidak memenumkan siapa-siapa. Hal ini berulang berkali-kalai sehingga Prabu Nagapercona keletihan mencari. Pada waktu beristirahat, Prabu Nagapercona melihat ada sosok yang sedang berteriak menantang dirinya. Dengan rasa ingin tahu, didekatilah sosok itu. Ternyata sosok itu adalah Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkejutlah Prabu Nagapercona ketika melihat sosok itu ternyata anak kecil. Ketika sudah dekat dengan Jabang Tutuka, tanpa ba bi bu, Prabu Nagapercona langsung menganyunkan gada raksasanya ke tubuh Jabang Tutuka. Beruntunglah Jabang Tutuka yang sempat menghidar. Dan terjadilah kejar mengejar. Pada suatu kesempatan, melompatlah Jabang Tutuka ke pundak Prabu Nagapercona dan menanggalkan mahkota sang Prabu. Sang Prabu dengan cekatan menangkap Jabang Tutuka dan meremas-remas tubuh Jabang Tutuka, tapi aneh bukannya kesakitan, Jabang Tutuka malah ketawa cekikikan karena geli. Melihat usahanya tidak berhasil, Prabu Nagapercona melempar Jabang Tutuka ke karang dengan maksud membuat mati. Tapi dengan cekatan Jabang Tutuka melompat dari tangan Prabu Nagapercona dan akhirnya dia bebas lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertempuran berlanjut dengan seru, Prabu Nagapercona mengejar dan menghantam membabi buta dan Jabang Tutuka dengan lincah menghindar. Sampai-sampai waktu mengejar Jabang Tutuka, Prabu Nagapercona menabrak batu karang dan mengakibatkan giginya copot satu. Dan Jabang Tutuka segera menyambit batu ke muka Prabu Nagapercona dan mengakibatkan mata kirinya bengkak.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun hanya cidera ringan, Prabu Nagapercona merasa terhina oleh derita yang didapat. Langsung saja Prabu Nagapercona melepaskan ajian yang dapat membutakan mata ke arah Jabang Tutuka. Seketika itu juga Jabang Tutuka buta. Tapi Jabang Tutuka tidak menyerah dan tetap melawan. Tapi apa dayanya, Jabang Tutuka sudah tidak dapat melihat. Satu pukulan mendarat dikepalanya, lalu tubuhnya dicekal oleh Prabu Nagapercona dan dibantinglah Jabang Tutuka ke karang runcing. Dan matilah Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tempat persembunyian, Batara Narada mengamati pertarungan mereka. Dan menjadi amat bingung melihat Jabang Tutuka mati teraniaya. Setelah Prabu Nagapercona pergi meninggalkan jasad Jabang Tutuka, baru Batara Narada muncul dan menghampiri Jabang Tutuka dan dibawalah jasad Jabang Tutuka ke Suralaya. Para dewata semua bingung atas apa yang terjadi. Mereka takut dan malu karena kalau Bratasena tahu apa yang terjadi dengan anaknya, dia pasti akan menyerang ke Suralaya. Akhirnya para dewata sepakat untuk meminta nasehat dari Batara Guru.</p>
<p style="text-align: justify;">Batara Guru menjelaskan kalau dia akan meminta Yang Esa untuk supaya Jabang Tutuka dihidupkan lagi dalam kedewasaannya. Tapi Batara Guru merasa itu saja tidak cukup. Dan memerintahkan supaya Jabang Tutuka dipersakti dengan cara digodok, dan digembleng di Kawah Candradimuka supaya dapat menjadi anak yang dapat melawan Prabu Nagapercona.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas permintaan dari Batara Guru, Yang Maha Esa menghidupkan Jabang Tutuka dalam keadaan dewasanya. Pada saat Jabang Tutuka terbangun, dia bingung kenapa dia sudah tumbuh dewasa dan berada ditempat yang sangat indah.  Dan dijelaskanlah oleh Batara Narada kalau dia sedang berada di Suralaya dan akan digembleng dikawah Candradimuka untuk menghadapi Prabu Nagapercona.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kebulatan tekad, Jabang Tutuka melompat kedalam kawah Candradimuka yang laharnya panas mendidih berwarna merah-kemerahan. Menurut cerita perwayangan, Jabang Tutuka tidak merasakan panasnya lahar tetapi dingin. Juga dipercaya para dewata mencampurkan tembaga, timah, kawat, intan, dan berlian ke dalam kawah. Baja dan besi pun dicampurkannya untuk membuat sempurna godogan. Terjadi keajaiban lagi, tubuh Jabang Tutuka bertambah besar dan perkasa. Setelah beberapa saat, keluarlah Jabang Tutuka dari kawah dan disambut oleh para dewata. Kemudian Jabang Tutuka dibawa ke hadapan Batara Guru dan diberi pakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Di luar sana, Prabu Nagapercona masih mencoba mendobrak pintu Suralaya. Dan tiba-tiba kepalanya terpukul oleh sesuatu dan tidak ada satupun orang yang melihat apa yang telah memukulnya. Prabu Nagapercona kembali melangkah dan tiba-tiba pukulan datang menghantam pasukannya. Sehingga pasukan dari Gilingwesi lari berantakan karena takut akan pukulan tanpa bayangan. Akhirnya Prabu Nagapercona turun tangan dan menantang perang empu pukulan tanpa bayangan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Munculah Jabang Tutuka dan Prabu Nagapercona tidak mengenal pemuda itu sebagai anak kecil yang telah ia binasakan tempo dulu. Ia memuji pukulan Jabang Tutuka yang keras. Dan meminta pintu Suralaya dibuka. Jabang Tutuka menyetujuinya tapi Prabu Nagapercona harus memenuhi beberapa persyaratan dari Jabang Tutuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jabang Tutuka meminta Prabu Nagapercona menyimpan senjatanya lalu bersender di batu gunung sambil menutup mata dan mulut. Jabang Tutuka memerintahkan kalau Prabu Nagapercona melanggar maka akan gagal semua usahnya. Pada kesempatan baik itu, Jabang Tutuka melayangkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh Prabu Nagapercona dengan leluasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Marahlah Prabu Nagapercona dan dihajarlah Jabang Tutuka. Pada serangan berikutnya dia gagal mengenai Jabang Tutuka yang cepat seperti kilat. Akhirnya Prabu Nagapercona mengerahkan ajian pernah digunakan untuk membutakan Jabang Tutuka. Tapi kali ini ajiannya tidak berhasil melukai Jabang Tutuka. Jabang Tutuka berkata bahwa dulu dengan ajian itu Prabu Nagapercona bisa membutakan matanya tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Terkejut setengah mati Prabu Nagapercona mendengar tutur Jabang Tutuka. Karena bukankah Jabang Tutuka telah dia binasakan dan kenapa pula Jabang Tutuka bisa hidup dan menjadi besar dan perkasa seperti sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Prabu Nagapercona yang lagi bengong memikirkan masalah itu diserang oleh Jabang Tutuka. Satu pukulan dan satu tendangan mendarat di dagu dan dada Prabu Nagapercona. Setelah itu kejar mengejar terjadi lagi dan akhirnya tenaga Prabu Nagapercona mulai meninggalkan tubuhnya. Pada kesempatan itu Jabang Tutuka mengerahkan kekuatan penuhnya untuk memukul Prabu Nagapercona dan binasalah Prabu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata pertarungan itu ditonton oleh para dewata dan rombongan Arjuna. Arjuna dam rombongannya mendapat tugas dari Bratasena untuk mencari tahu kabar Jabang Tutuka. Setelah perang tanding itu dimenangkan oleh Jabang Tutuka, para dewata pun muncul dan mengucapkan selamat atas kemenangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para dewata memberikan pujian-pujian dan nama-nama untuk Jabang Tutuka. Batara Narada memberi nama <a href="http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">Gatot Kaca</a>, Batara Sambo memberi nama Melayangtengah, Batara Darma menjuluki Kancing Jaya, Batara Brahma menjuluki Purabaya. Batara Kamajaya memberi nama <a href="http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">Satria Pringgandani</a>. Batara Batu memberi nama Krincingwesi. Batara Surya memberi nama Arimbisuta karena Jabang Tutuka adalah putra dari <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Dewi Arimbi</a>. Batara Kurewa memberi nama Ideralam. Batara Pulandara menjuluki Bimaputra, Batara Indra memberi nama Suryapringga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara rombongan Raden Arjuna menghampiri Jabang Tutuka dan menanyakan nama ksatria yang telah membinasakan Raden Nagapercona. Dijelaskanlah oleh para dewa duduk persoalan apa yang terjadi dengan Jabang Tutuka. Dan disuruhlah Jabang Tutuka untuk bersujud didepan Randen Arjuna.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Pringgandani, <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Bratasena</a> kedatangan tamu Raden Aradea yang sadar akan kesalahannya dan ingin mengembalikan senjata Konta. Raden Aradea menghadap Raden Bratasena dan meminta maat. Tapi dasar sifat <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> yang kasar, setelah mendengar permintaan maaf itu marahlah Raden Bratasena dan menghajar Raden Aradea sampai babak belur. Sungguh beruntung Raden Aradea karena <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Dewi Arimbi</a> yang baik hati mencegah suaminya karena bukankah Raden Aradea telah minta maaf dan Raden Aradea juga masih ada hubungan saudara dengan suaminya. Pada kesempatan itu kaburlah Raden Aradea dan sejata Konta akhirnya tidak dikembalikan kepada <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada perang Baratayudha, Raden Aradea yang telah berganti nama menjadi Adipati Karna akan membinasakan <a href="http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm">Gatot Kaca</a> dengan senjata Konta. Senjata Konta Adipati Karna tembus ke dalam perut Gatot Kaca dan masuk ke sarungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum puas <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> menghajar Raden Aradea, maka dikejarlah Raden Aradea. Tepat diluar istana, langkah <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> terhenti oleh rombongan Raden Arjuna beserta Jabang Tutuka. Diterangkanlah apa yang terjadi dengan Jabang Tutuka dan Jabang Tutuka pun memperlihatkan pusarnya kepada ayahnya. Tapi Raden Bratasena tidak mau mengakui begitu saja maka ditantanglah Jabang Tutuka. Jabang Tutuka bersedia tapi tidak mau membalas menyerang dan hanya menghindar dan menangkis. Karena kesaktian Jabang Tutuka yang lincah dan tidak mempan pukulan, akhirnya Raden Bratasena mengaku kalah. Dan diakuilah kalau pemuda itu oleh <a href="http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm">Raden Bratasena</a> sebagai putranya.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gatotkaca, the Flying Knight of Pringgadani, son of Bimasena'>Gatotkaca, the Flying Knight of Pringgadani, son of Bimasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bima</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 04:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm</guid>
		<description><![CDATA[Dari seluruh Pandawa, Bima yang paling dibenci oleh Kurawa. Bima memiliki tubuh yang paling kuat di antar Pandawa dan Kurawa. Dia mampu mengalahkan Duryodhana dan Kurawa lainnya. Waktu perang tanding antara Bima dan Kurawa, pihak Kurawa selalu kalah dan dihajar habis-habisan. Duryodhana, yang tertua dari Kurawa sangat membenci Bima dan selalu mencari cara untuk membinasakan Bima. Kebencian ini semakin bertambah karena ketakutan akan lepasnya tahta dari tangannya.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/bima.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-290" title="bima" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/bima-230x300.jpg" alt="bima" width="230" height="300" /></a>Pada cerita tokoh Bima kali ini aku akan sekaligus menceritakan beberapa tokoh karena tokoh-tokoh ini hanya berperan sedikit namun peran mereka sangat berarti dalam cerita Mahabrata.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima termasuk Pandawa yang paling dikenal oleh masyarakat ramai. Bahkan ada produk jamu diberi nama &#8220;Kuku Bima&#8221;. Sangking nge-trend-nya &#8220;Kuku Bima&#8221; banyak orang mengira senjata Bima bernama Kuku Bima. Ada lelucon mengenai Kuku Bima. Di dalam kelas sekolah dasar negeri di Jakarta, kebetulan hari itu berlangsung pelajaran sejarah dan topik hari itu mengenai perwayangan. Guru sejarah bertanya kepada murid-muridnya: &#8220;Apakah nama senjata sakti mandraguna milik Bima?&#8221;. Dari pojokan kelas tangan dianjungkan ke atas dan sang guru mempersilahkan muridnya untuk menjawab. &#8220;Kuku Bima, Bu!&#8221;, sahutnya. <span id="more-91"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Memang senjata Bima yang sakti berbentuk kuku, tapi namanya bukan Kuku Bima, namanya Pancanaka. Pancanaka ini bukan sembarang kuku. Kuku ini tanjamnya tak terhingga. Ada cerita kalau tanjamnya Pancanaka setara dengan 7 pisau cukur baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari seluruh Pandawa, Bima yang paling dibenci oleh Kurawa. Bima memiliki tubuh yang paling kuat di antar Pandawa dan Kurawa. Dia mampu mengalahkan Duryodhana dan Kurawa lainnya. Waktu perang tanding antara Bima dan Kurawa, pihak Kurawa selalu kalah dan dihajar habis-habisan. Duryodhana, yang tertua dari Kurawa sangat membenci Bima dan selalu mencari cara untuk membinasakan Bima. Kebencian ini semakin bertambah karena ketakutan akan lepasnya tahta dari tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rencana Pembunuhan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Duryodhana pernah merencanakan untuk membunuh Bima dengan menenggelamkan ke dalam Sungai Gangga. Waktu itu Bima dan beberapa Kurawa berenang di Sungai Gangga, setelah selesai berenang mereka bersantap. Tidak tahunya makanan Bima telah diracuni oleh Kurawa. Letih dan ditambah keracunan makanan membuat Bima terbaring lemas tidak berdaya. Melihat hal itu Duryodhana, sepupu Bima segera mengikat sepupunya itu dengan ranting-ranting pohon berduri dan menutupi tubuhnya dengan daun-daun gatal. Kemudian mereka melemparkan Bima ke papan lebar yang dipasangi paku-paku tajam beracun. Mereka memperkirakan, jika Bima jatuh di atas papan itu, ia pasti akan binasa tertusuk paku-paku beracun itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Bima tidak jatuh di atas papan itu. Dia jatuh ke dalam Sungai Gangga. Segera oleh ular-ular penghuni Sungai Gangga yang sangat berbisa mematuki tubuh Bima. Belum jauh dihanyutkan, Bima dihempaskan oleh pusaran air ke tepian seberang sungai. Dengan gembira, Duryodhana dan saudara-saudaranya yang mengira telah membinasakan Bima pulang ke istana. Namun Bima selalu dalam lindungan dewata, racun-racun ular bukan membunuh Bima malah membantu melawan racun makanan Duryodhana sehingga racun di tubuh Bima menjadi sirna. Tidak hanya sirna malah membuat Bima kebal akan segala racun.</p>
<p style="text-align: justify;">Usaha pembunuhan Bima tidak sekali dilakukan. Duryodhana melakukan beberapa kali percobaan pembunuhan. Kali ini Duryodhana meminta bantuan dari Mahaguru Dorna, seorang resi mahasakti untuk membinasakan Bima. Karena Mahaguru Dorna lebih berat ke Kurawa, diluluskan permintaan Kurawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahaguru Dorna memanggil Bima menghadap dan memberi dia tugas untuk mencari tirtha prawidhi atau air suci kehidupan. Katanya, &#8220;Wahai, muridku Bima yang perkasa, pergilah engkau mencari tirtha prawidhi. Carilah sampai dapat. Jangan kembali jika belum berhasil. Ketahuilah, barang siapa memiliki tirtha prawidhi, dia akan dapat memahami hidup ini dan akan mampu mengenal asal, arah dan tujuan hidup manusia, yaitu sangkan paraning dumadi. Pergilah anakku. Jangan pernah ragu, karena orang yang ragu takkan pernah berhasil.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bima memang orang yang tidak pernah banyak pikir sebelum bertindak. Setelah minta izin dengan ibunya, Dewi Kunti, ia pun berangkat. Dalam pikiran Bima tidak terlintas rencana busuk yang dibuat oleh Kurawa untuk mencelakakan dirinya. Di perjalanan mencari tirtha prawidhi, Bima tidak perduli pada binatang buas, raksasa, setan atau jin yang mengganggunya dalam pengembaraan. Semua berhasil dikalahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari ketemulah Bima dengan dua raksasa sakti, Rukmukha dan Rukmakhala. Ia menantang kedua raksasa itu untuk berkelahi. Tantangan diterima. Ia menerjang kedua raksasa itu. Keduanya tewas seketika. Begitu terbanting ke tanah, kedua raksasa itu menjelma menjadi Batara Indra dan Batara Bayu, yaitu ayah Bima sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Batara Indra memberinya mantra Jalasengara dan Batara Bayu memberinya satu ikat pinggang sakti. Kedua hadiah itu akan menjadi bekal baginya untuk mengarungi samudera paling dalam di mana pun di dunia. Kemudian Batara Bayu memberinya petunjuk bahwa air hidup yang dimaksud terletak di dalam Telaga Gumuling, di tengah rimba Palasara. Di dalam rimba belantara itu Bima harus menghadapi seekor naga raksasa sebesar Gunung Semeru yang bernama Anantaboga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima mengucapkan terima kasih, lalu pergi ke rimba Palasara. Sampai di tepi Telaga Gumuling, Bima disambut oleh naga raksasa Anantaboga yang langsung menyerangnya. Naga itu mengibas-ibaskan ekornya dan membelit badan kesatria Pandawa itu. Dengan Pancanaka, kuku ibu jarinya yang sakti, Bima menusuk leher Anantaboga dan memutus tali nyawanya. Anantaboga menggelepar-gelepar sebentar, lalu menggeletak mati, tak bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaib. Mayat Anantaboga lenyap, menjelma menjadi Dewi Maheswari. Sesungguhnya Dewi Maheswari adalah bidadari yang di-kutuk-pastu oleh Sang Hyang Guru Pramesti. Ia terpaksa menjalani hukuman sebagai naga raksasa. Dari Dewi Maheswari, Bima mendapat petunjuk di mana ia bisa menemukan tirtha prawidhi, yaitu di dasar samudera raya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mantra Jalasengara pemberian Batara Indra, Bima mengarungi Samudera Selatan yang penuh gelombang bergulung-gulung setinggi gunung. Di dalam samudera itu ia harus menghadapi naga besar Nawatnawa yang menyemburkan hujan berbisa. Tetapi, berkat apa yang dialaminya di Sungai Gangga, badannya menjadi kebal. Dan berkat ikat pinggang pemberian Batara Bayu, ia bisa mengambang di samudera raya. Dengan tangkas ia menaklukkan Nawatnawa, mencekiknya, dan menusuk lehernya dengan kuku Pancanaka. Seketika itu, matilah Nawatnawa. Tetapi, setelah tiga pertarungan berat itu, Bima menjadi sangat lelah. Ia membiarkan dirinya diombang-ambingkan gelombang raksasa dan dihempaskan ke sebuah karang emas. Seorang diri, tanpa pertolongan siapa pun.</p>
<h2 style="text-align: justify;"><strong>Dewa Rutji</strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/batara-ruci1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-293" title="batara-ruci1" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/batara-ruci1-215x300.jpg" alt="batara-ruci1" width="215" height="300" /></a>Ketika itulah muncul Dewa Ruci yang sangat kasihan melihat Bima. Ia memancarkan sinar cemerlang yang menyebabkan Bima siuman. Alangkah kagetnya Bima melihat seorang manusia yang sangat kecil namun sangat mirip dengan dirinya. Manusia itu berkata, &#8220;Aku ini Dewa Ruci yang disebut juga Nawaruci. Aku datang untuk menolongmu Bimasena. Wahai kesatria perkasa, masuklah ke dalam telingaku. Di dalam diriku, engkau akan menemukan apa yang kaucari&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bima heran sekali mendengar perintah manusia mungil itu. Bagaimana mungkin tubuhku yang sebesar ini bisa masuk merasuk ke dalam tubuhnya yang sekecil itu? pikirnya terheran-heran. Ketika Bima masih ragu-ragu, Dewa Ruci berkata, &#8220;Sesungguhnya, tempat ini adalah tempat yang kosong dan sunyi, tak ada apa-apa, tak ada busana atau pakaian, tak ada boga atau makanan. Semua serba sempurna. Ketahuilah, selama ini engkau hanya setia pada ucapan, mengabdi pada gema, yaitu bentuk segala kepalsuan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Uraian hakikat hidup yang gaib itu membuat Bima tercengang, tak kuasa berkata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewa Ruci melanjutkan, &#8220;Siapakah yang lebih besar, wahai Panduputra, engkau atau alam semesta yang ada di dalam tubuhku? Aku adalah jagad besar atau makrokosmos dan engkau adalah jagad kecil atau mikrokosmos yang ada di dalam aku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bima yang semula ragu, apakah dia akan bisa masuk ke dalam lubang telinga Dewa Ruci, menjadi mantap setelah mendengar uraian ringkas itu. Tanpa ragu ia melaksanakan perintah manusia mungil itu. Begitu memasuki telinga Dewa Ruci, Bima merasa seakan-akan berada di alam kosong, berhadapan dengan suatu wujud berbentuk gading yang memancarkan sinar putih, merah, kuning, dan hitam perlambang jiwa manusia dengan sifat-sifat murninya. Sinar putih melambangkan kemurnian budi, sinar merah melambangkan watak berangasan dan lekas marah, sinar kuning melambangkan keinginan-keinginan manusiawi, dan sinar hitam melambangkan angkara murka dan keserakahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Bima melihat tiga wujud seperti boneka dari emas, gading dan permata. Ketiganya melambangkan tiga dunia. Masing-masing disebut Inyanaloka atau lambang badan jasmani, Guruloka atau lambang alam kesadaran, dan Indraloka atau lambang dunia rohani. Demikianlah, di dalam tubuh Dewa Ruci, Bima mendengarkan penjelasan panjang lebar tentang hakikat manusia dengan segala nafsunya dan hakikat alam semesta yang terbagi menjadi tiga tataran.<br />
Kemudian, tanpa disadarinya, Dewa Ruci yang gaib dan agung itu lenyap dari mata batinnya. Bima tersadar. Tahulah Bima bahwa dia telah menemukan apa yang harus dicarinya, vaitu tirtha prawidhi, air suci atau air kehidupan, perlambang hakikat dirinya dan hakikat alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima seorang yang tidak pernah menggunkana bahasa halus pada siapapun bahkan dengan dewa sekalipun tutur bahasanya tetap kasar. Hanya pernah sekali Bima bertutur bahasa halus yaitu ketika berbicara dengan Dewa Ruci. Dewa Ruci berarti juga dewa yang halus. Dewa Ruci ialah halusnya Bima.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima beristri Dewi Nagagini dan Dewi Arimbi. Anantasena anak tertua Bima dari Dewi Nagagini dan Gatotkaca anak dari Dewi Arimbi.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><strong>Raden Bratasena</strong></p>
<p><a class="imagelink" title="Raden Bratasena" href="http://blog.nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Raden_Bratasena.jpg"><img id="image94" src="http://blog.nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Raden_Bratasena.thumbnail.jpg" alt="Raden Bratasena" align="left" /></a>Raden Bratasena seorang Pandawa jang kedua, putera Prabu Pandu. Bratasena bernama djuga Bima dan Bajusuta, sebagai putera angkat Betara Baju, dll.  Setelah dewasa ia bernama Wrekodara, bertachta di Djodipati, sebagai kesateria besar, jalah kesateria sebagai radja.</p>
<p>Bratasena seorang jang tak pernah memakai bahasa halus pada siapa pun djuga, maupun kepada Dewa, dipergunakan bahasa kasar. Selama hidupnja hanja sekali, ia berbahasa halus (Dj. krama) jakni ketika ia bertemu dengan Dewa Rutji. seorang Dewa kerdil, jang dianggap Dewanja jang sedjati. Tetapi kekasaran bahasanja itu penuh dengan kebidjaksanaan. Ia tak pernah dusta. Sebab kesutjian djiwanja, Bratasena senantiasa mendapat kebenaran.</p>
<p>Raden Bratasena bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan berdjanggut, dengan berpupuk didahi, rambut terurai bentuk palos (bersahadja), dihias dengan garuda membelakang dan sunting waderan, berkalung bulan sabit, bergelang bentuk Tjandrakirana, berpontoh dan berkerontjong. Berkuku Pantjanaka, jalah kuku sakti lebih dari sendjata jang sakti. Bertjelana pendek (katok).</p>
<p>Segala pakaian Bratasena sebagai lambang jang mengenai pada diri dan ketetapan hatinja. Ia beroman muka merengut (Dj. ndjenggureng), akan tanda bahwa ia berani pada kebenaran. Ketetapan hati Bratasena laksana gununa, tak berubah ditempuh angin.</p>
<p>Kata dalang bagi badan dan pakaian Bratasena sebagai lambang ; Alkisah, akan djalan kesateria di Tunggulpamenang (Bratasena), setekali ia berdiri tegak, keluarlah angin kesaktiannja. Raden Bratasena diwaktu berdjalan selalu lurus tak pernah membelok. Ia berhias : rambut terurai, berkantjing sanggul garuda membelakang dengan terlaias. Hal ini untuk lambang, bahwa Bratasena tak samar kepada Dewa dan kedjidwaannja sendiri. Pupuk didagu, memperingatkan akan tjahaja jang tampak dalam rahim Hjang dewa Rutji (Dewa Bratasena). Sunting mas tergubah bentuk serat buah asam, akan lambang bahwa kepandaian Bratasena disamarkan, tampak sebagai orang jang dungu.</p>
<p>Sunting mana tertutup dengan hiasan berbentuk bunga pandan berwarna putih, bermaksud: dimana berbau harum dibagian luar, didalampun wangi djuga. Berpontoh bentuk buah manggis digubah kelian tempatnja, berarti bahwa ia semasa datang pada azalnja akan sempurna dengan segala-galanja, tak ada jang akan ketinggalan. Gelang tjandrakirana, tjandra : bulan, kirana : tulisan, bermaksud bahwa kesateria Tungulpamenang berpengetahuan tak dengan tulisan, akan terasa terang benderang tak samar-samar. Berkalung nagabanda (naga pengikat), berarti naga itu radja ular, banda : tali untuk mengikat badan, akan lambang, bahwa Raden Bratasena didalam perang, berkekuatan seimbang dengan kemurkaan naga, dan tak akan meninggalkan gelanggang, tak ada perkataan : kalah, kekalahan Bratasena : mati. Bertjawat kain poleng bang bintulu (kain berkotak-kotak empat segi lima warna). Kain ini untuk memperingat pada amarah jang lima perkara. Berikat pinggang kain tjindai berumbai terlentang diatas paha kanan dan kiri, akan lambang, bahwa Raden Bratasena mengetahui segala hal diantara kiri dan kanannja. Porong (Jyarang perhiasan) terletak diatas paha, berarti bahwa ia dapat menjimpan segala-galanja didalam sanubari. Kerontjong nagaradja membelit kaki, untuk peringatan bahwa ia dapat bertemu dengan Dewa Rutji, setelah ia terlepas dari belitan naga. Berkuku pantjanaka sepandjang lawi-lawi ditangan kanan dan kiri: Raden Bratasena sebagai lambang kekuatan dari antara kelima saudaranja, dan dapat membuka segala pengetahuan.</p>
<p>Tersebutlah datang angin ribut makin besar, dimasa itu Raden Bratasena mengutjapkan ilmu Wungkalbener dan Bandungbandawasa, pun adji Djalasengsara. Bratasena waktu berdjalau diiringkan dengan lirna baju (angin); jang kehidjau-hidjauan kepunjaan Begawan Maenaka ; angin jang kehitam-hitaman kepunjaan liman (gadjah) Satubanda; angin jang kekuning-kuningan kepunjaan Raden Bratasena sendiri; angin jang keputih-putihan kepunjaan Begawan Kapiwara (Anoman).</p>
<p>Waktu ilalang mengutjapkan ini wajang (Bratasena) sedang ditjatjakkan ditengal kelir, lalu dalang mendjalankan gunungan dilewatkan berulang-ulang, untuk ibarat bahwa Raden Bratasena mengeluarkan angin, dengan diiringi suluk (lagu) dalang jang dapat membangunkan rasa geram.</p>
<p>Topan itu bersuara menggeledek menempuli pohon2 kaju. Pohon2 kaju jang dalam akarnja: patah, mana jang tak dalam akarnja: tumbang.</p>
<p>Djalan Raden Bratasena lurus dan mengikuti apa kehendaknja. Lompat Raden Bratasena sedjauh penglihatan gadjah. Tjepat sebagai kilat.</p>
<p>Sehabis utjapan ini; dalang lalu mendjalankan wajang Bratasena berulang-ulang dikelir dengan diiring bunji gamelan. Djalan Bratasena diwudjudkan setjara melontjat, buat satu-satu lontjtan menurut lebar kelir jang untuk mentjatjakkan wajang dibagian tengah.</p>
<p>Sumber:<br />
Sedjarah Wajang Purwa<br />
Pak Hardjowirogo<br />
P.N. Balai Pustaka</p></blockquote>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><strong>Raden Wrekodara</strong></p>
<p><a class="imagelink" title="Raden Wrekodara" href="http://blog.nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Raden_Wrekodara.jpg"><img id="image95" src="http://blog.nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Raden_Wrekodara.thumbnail.jpg" alt="Raden Wrekodara" align="left" /></a>Wrekodara ada nama Bratasena setelah dewasa, dengan merobah pakaiannja kesateriaan dan gelungnja jang dihias oleh seorang Dewa perempuan, Betari Durga. Setelah berganti pakaian itu berganti nama Wrekodara, tak bernama lagi Bratasena.</p>
<p>Wrekodara seorang sakti dan kuat, sendjatanja jalah kukunja sendiri jang bernama Pantjanaka. Kuku itu tadjam tak terhingga; kata tjerita tadjamnja tudjuh kali setadjam pisau tjukur ; pun Wrekodara mempunjai kekuatan angin, berkuasa membongkar gunung. Ia tak pernah berdjalan perlahan. Bila berdjalan ia melompat, djauh lompatnja tudjuh kali penglihatan gadjah.</p>
<p>Wrekodara selalu mendjundjung kehormatan Pendawa, ia sebagai ibu bapak Pendawa, dan bersembojan mati satu mati semuanja.</p>
<p>Ia pernah bertachta djadi radja di Gilingwesi, bernama Tuguwasesa. Pada masa Beratajuda ia berperang seorang melawan seorang dengan Sujudana (Dj. Perang tanding).</p>
<p>Pada lakon Sridenta, Raden Wrekodara berperang dengan Prabu Stidenta, seorang_radja negeri Djumapala, Raden Wrekodara kalah dibanting oleh Sridenta hingga separuh badannja Raden Wrekodara termasuk kedalam bumi, jang kemudian dapat ditolong oleh Raden Ardjuna, dapat dikeluarkan dari bumi.</p>
<p>Pada waktu mudanja, masih bernama Bratasena, ia kawin dengan seorang puteri bernama Dewi Nagagini puteri Hjang Anantaboga, berputera Raden Antasena.</p>
<p>Waktu puteri itu sedang mengandung ditinggallah oleh Bratasena. Setelah anak itu dewasa, menghadaplah ia pada rarnandanja, tetapi tidak diakuinja, diakui djuga asalkan dia dapat mengalahkan kekuatan Wrekodara.</p>
<p>Disergaplah Wrekodara oleh Antasena tak dapat bergerak, diakuilah kemudian ia putera Wrekodara.</p>
<p>Wrekodara kesateria jang sakti dengan kekuatannja angin, tak dapat dilawan. Tetapi sebenarnja kedua puteranja lebih sakti dari padanja, jalah Antaredja dan Gatotkatja. Untuk menianda kesaktiannja kedua putera itu, dilawan dengan perang tanding, perang seseorangan. Wrekodara kalahlah. Tetapi kekalahan Wrekodara dengan kedua puteranja itu, malahan membanggakan perasaan Wrekodara, jang disebut anak anung, berarti anak jang tersakti.</p>
<p>Raden Wrekodara bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan berdjanggut dengan berpupuk didahi, bersanggul bentuk supit-urang (sepit udang), bersunting waderan dan lain-lainnja seperti pakaian Bratasena.<br />
Wrekodara berwanda : 1. Lintang, 2. Lindu, 3. Lindupanon, 4, Bam. bang, 5. Gurnat, 6. Mimis. Semua karangan Susuhunan Anjakrawat wafat Krapjak.</p>
<p>Sumber:<br />
Sedjarah Wajang Purwa<br />
Pak Hardjowirogo<br />
P.N. Balai Pustaka</p></blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/20/raden-bratasena-atau-bima-atau-wrekodara.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raden Puntadewa</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 01:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang ketinggalan ketika posting Prabu Judistira. Kebanyakan tokoh wayang memiliki banyak nama. Ada nama kecil, nama yang diberikan oleh dewa, nama yang dipakai setelah mencapai suatu posisi. Prabu Judistira pada masa mudanya dipanggil Raden Puntadewa. Ini ada cerita pendek mengenai Raden Puntadewa.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Prabu Judistira'>Prabu Judistira</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/raden-puntadewa.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-311" title="raden-puntadewa" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/raden-puntadewa-204x300.jpg" alt="raden-puntadewa" width="204" height="300" /></a>Ada yang ketinggalan ketika posting Prabu Judistira. Kebanyakan tokoh wayang memiliki banyak nama. Ada nama kecil, nama yang diberikan oleh dewa, nama yang dipakai setelah mencapai suatu posisi. Prabu Judistira pada masa mudanya dipanggil Raden Puntadewa. Ini ada cerita pendek mengenai Raden Puntadewa.<span id="more-88"></span></p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Raden Puntadewa</p>
<p>Raden Puntadewa nama Prabu Judistira pada masa mudanja.</p>
<p>Setelah mendjadi radja dengan gelar Prabu, ia tidak berpakaian jang serba keemasan hanja sederhana sadja.</p>
<p>Di Demak ada didapati orang sebuah kuburan jang pandjang, disebut kubur Ratu Ngamarta. Pada waktu zaman dahulu dikeradjaan Demak, ada seorang wali bertemu dengan seorang kuna, jang mengaku bernama Ratu Ngamarta pada zaman Purwa. Maka hingga pada masa itu ia masih hidup, karena ada mempunjai pusaka surat Kalimahusada, jang belum dapat orang membatjanja. Setelah surat dilihat oleh wali itu, njatalah kalimah sjahadat. Sehabis diutjapkan oleh wali matilah orang kuna itu dan dikubur dibelakang masdjid. Menurut tjerita itulah kubur Judistira. Wallahualam.</p>
<p>Puntadewa bermata djaitan, hidung mantjung, roman muka tenang.</p>
<p>Bersanggul keling dengan sunting waderan. Berkalung putera, bergelang, berpontoh dan baerkerontjong. Kain bentuk bokongan puteran.</p>
<p>Raden Puntadewa berwanda : Malatsih dan Penganten.</p>
<p>Sumber:<br />
Sedjarah Wajang Purwa<br />
Pak Hardjowirogo<br />
P.N. Balai Pustaka</p></blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/dewi-arimbi.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewi Arimbi'>Dewi Arimbi</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Prabu Judistira'>Prabu Judistira</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prabu Judistira</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Sep 2006 09:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm</guid>
		<description><![CDATA[Prabu Judistira seorang radja di Amarta, putera Prabu Pandudewanata, ialah Pendawa jang tertua. Pada masa mudanja bernama Puntadewa.

Judistira seorang jang sabar sekali hingga disebut, orang, ia berdarah putih, karena tak pernah marah. Karena sifatnja itu, Judistira terdjauh dari pada bahaja.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote style="text-align: justify;"><p><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/252913245_310af426071.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-315" title="252913245_310af42607" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/252913245_310af426071-225x300.jpg" alt="252913245_310af42607" width="225" height="300" /></a>Prabu Judistira seorang radja di Amarta, putera Prabu Pandudewanata, ialah Pendawa jang tertua. Pada masa mudanja bernama Puntadewa.</p>
<p>Judistira seorang jang sabar sekali hingga disebut, orang, ia berdarah putih, karena tak pernah marah. Karena sifatnja itu, Judistira terdjauh dari pada bahaja.<span id="more-81"></span></p>
<p>Judistira mempunjai pusaka surat Kalimahusada, jang kesaktiannja mendjauhkan seteru, menjelamatkan diri dll. Sebaliknja surat itu akan berbahaja pada siapa jang bermaksud djahat kepada Kalimahusada. Tetapi dalam lakon, surat Kalimahusada itu pernah dikuasai oleh orang jang menjimpannja mendjadi djaja.</p>
<p>Judistira tak pernah berperang. Dalam perang Beratajuda ia diangkat mendjadi pahlawan, tetapi sangat mendjengkelkan saudara2nja Pendawa, karena ia segan melawan musuhnja. Maka terpaksa dibantu oleh Ardjuna, dengan mendorong anak panah jang dilepaskan oleh Judistira dengan anak panah Ardjuna, hingga musuh itu kalah.</p>
<p>Judistira dan sekalian saudara Pendawa menemui adjalnja dengan sempurna sehabis perang Beratajuda.</p>
<p>Prabu Judistira bermata djaitan, hidung mantjung, muka tenang, lebih tenang dari pada waktu masih mudanja (Puntadewa). Bergelung keling, bersunting waderan. Setelah ia bersemajam sebagai radja, membuangkan segala pakaian jang serba keemasan dan permata. Maka ia seorang radja jaag sangat bersahadja.</p>
<p>Prabu Judistira berwanda : 1 Putut. 2 Manuksma, 3 Djimat dan 4 Deres.</p>
<p>Sumber:<br />
Sedjarah Wajang Purwa<br />
Pak Hardjowirogo<br />
P.N. Balai Pustaka</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a class="tt-flickr" href="http://www.flickr.com/photos/24572895@N00/251933491/"><img src="http://static.flickr.com/26/251933491_1c8efb6e70_t.jpg" border="0" alt="Judistira" width="60" height="100" align="left" /></a> Yang paling aku kagumi dari tokoh Pandawa ialah Judistira. Kagum dengan kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan, keadilan, kesabaran, dan kebijakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sangking jujurnya dipercaya kalau kereta perang yang digunakannya tidak menyentuh tanah alias melayang. Sebelum perang Baratayudha pecah Judistira masih mencari damai dengan pihak Kurawa dan meminta hanya lima desa untuk masing-masing Pandawa sebagai ganti haknya atas separoh Negara Hastina. Tetapi tidak digubris oleh pihak Kurawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika perang Baratayudha hendak dimulai, berjalan sendirilah Judistira ke dalam barisan pasukan Kurawa untuk meminta restu dan izin memulai perang kepada tetua-tetua dan gurunya (Bishma, Dorna, Salja, dll).</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang paling aku kagumi dari Judistira yaitu pada saat menjawab pertanyaan terakhir dari Batara Yama mengenai siapakah yang hendak dihidupkan dari seluruh saudaranya tewas karena minum air telaga. Beginilah ceritanya:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke tanah terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin cemerlang. Dan di pinggir telaga ia melihat keempat saudaranya tergeletak tak bergerak. Dihampirinya satu per satu, dirabanya kaki, tangan, dahi, dan denyut jantung mereka. Yudhistira berkata dalam hati, &#8220;Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku. Rupanya para dewata hendak membebaskan kita dari kesengsaraan.&#8221;</p>
<p>Menatap wajah Nakula dan Sahadewa, pemuda-pemuda yang di masa hidupnya periang dan perkasa tapi kini terbujur dingin tak bergerak, hati Yudhistira sedih. &#8220;Haruskah hatiku terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku? Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati? Untuk apa aku hidup? Aku yakin, ini bukan peristiwa biasa,&#8221; gumam Yudhistira. Ia tahu, tak seorang kesatria pun akan mampu membunuh Bhima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat.</p>
<p>&#8220;Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang yang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai.&#8221; Hatinya terus bertanya-tanya. &#8220;Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekasbekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian. Ini pasti peristiwa gaib. Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhana? Mungkinkah Duryodhana telah meracuni air telaga ini?&#8221;</p>
<p>Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. la ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, &#8220;Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan hausmu. Telaga ini milikku.&#8221;</p>
<p>Yudhistira yakin, suara itulah yang menyebabkan saudara-saudaranya mati. Pikirnya, ini pasti suara yaksa. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemudian Yudhistira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu.</p>
<p>Yudhistira: &#8220;Silakan ajukan pertanyaanmu.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Kekuatan Brahman.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Mempelajari ilmu apakah yang bisa membuat manusia jadi bijaksana?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Orang tidak menjadi bijaksana hanya karena mempelajari kitab-kitab suci. Orang menjadi bijaksana karena bergaul dan berkumpul dengan para cendekiawan besar.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia dari pada bumi ini?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang lebih tinggi dari langit?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Bapa.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang lebih kencang dari angin?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Pikiran.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Hati yang menderita duka nestapa.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apa yang menjadi teman seorang pengembara?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Kemauan belajar.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Siapakah teman seorang lelaki yang tinggal di rumah?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Istri.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Dharma. Hanya Dialah yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kematian.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Perahu apakah yang terbesar?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Bumi dan segala isinya adalah perahu terbesar di jagad ini.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apakah kebahagiaan itu?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya?&#8221;<br />
Yudhistira : &#8220;Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Apakah yang membuat orang benar-benar menjadi brahmana? Apakah kelahiran, kelakuan baik atau pendidikan sempurna? Jawab dengan tegas!&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana; hanya kelakuan baik yang membuatnya demikian. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak akan menjadi brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan jeleknya. Betapapun dalamnya penguasaannya akan kitab-kitab suci, tapi jika kelakuannya buruk, ia akan jatuh ke kasta yang lebih rendah.&#8221;<br />
Suara gaib: &#8220;Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Setiap orang mampu melihat orang lain pergi menghadap Batara Yama, namun mereka yang masih hidup terus berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Itulah keajaiban terbesar.&#8221;</p>
<p>Demikianlah yaksa itu menanyakan berbagai masalah dan Yudhistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan yaksa itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.</p>
<p>Suara gaib: &#8220;Wahai Raja, seandainya salah satu saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih? Dia akan hidup kembali.&#8221;<br />
Yudhistira: (Berpikir sesaat, kemudian menjawab.) &#8220;Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati.&#8221;<br />
Suara gaib: (Belum puas akan jawaban Yudhistira, yaksa itu bertanya lagi.) &#8220;Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bhima yang kekuatan raganya enam belas ribu kali kekuatan gajah? Lagi pula, kudengar engkau sangat mengasihi Bhima. Atau, mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula!&#8221;<br />
Yudhistira: &#8220;Wahai Yaksa, dharma adalah satu-satunya pelindung manusia, bukan Bhima bukan Arjuna. Apabila dharma tidak diindahkan, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri avahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi Dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarkan Nakula, putra Dewi Madri, hidup bersamaku.&#8221;</p>
<p>Yaksa itu puas sekali mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Akhirnya, yaksa itu menghidupkan kembali semua saudara Yudhistira.</p>
<p>Ternyata, menjangan dan yaksa itu adalah penjelmaan Batara Yama, Dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin dan dharma Yudhistira.</p>
<p>Batara Yama berdiri di depan Yudhistira lalu memeluknya sambil berkata, &#8220;Beberapa hari lagi masa pengasinganmu di hutan rimba akan selesai. Di tahun ketiga belas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itu pun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuh pun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini. Dharma akan selalu menyertaimu, Yudhistira. Setelah berkata demikian, Batara Yama menghilang.</p>
<p>Pengalaman Arjuna dalam perjalanan mencari senjata pamungkas yang sakti, pengalaman Bhima bertemu dengan Hanuman dan Dewa Ruci, dan pengalaman Yudhistira bertemu dengan Batara Yama, menambah kekuatan jasmani, keyakinan batin serta kemuliaan rohani Pandawa. Secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama mereka semakin tekun menjalani dan mengagungkan dharma.</p>
<p>Sumber:<br />
Mahabrata<br />
Nyoman S. Pendit<br />
PT Gramedia Pustaka Utama</p></blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/15/prabu-judistira.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gatotkaca, the Flying Knight of Pringgadani, son of Bimasena</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Sep 2006 09:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm</guid>
		<description><![CDATA[Gatotkaca sangat hebat tapi sayang dia harus mati di usia muda. Kematian Gatotkaca sudah diatur oleh Prabu Kresna. Prabu Kresna menginginkan kemenangan sempurna bagi pihak Pandawa dalam perang Bharatayudha. Beliau takut dengan panah andalan Karna yang bernama Kunta. Kunta adalah senjata pemberian Batara Indra. Panah tersebut merupakan senjata yang maha ampuh, tidak ada senjata yang lebih hebat dari Kunta. Tapi sayang Panah Kunta hanya bisa digunakan sekali.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jabang Tutuka: Lahirnya GatotKaca'>Jabang Tutuka: Lahirnya GatotKaca</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a class="tt-flickr" href="http://www.flickr.com/photos/24572895@N00/242259674/"><img src="http://static.flickr.com/89/242259674_623f488174_t.jpg" border="0" alt="Gatotkaca" width="60" height="100" /></a> <a class="tt-flickr" href="http://www.flickr.com/photos/24572895@N00/249657969/"><img src="http://static.flickr.com/91/249657969_1b5864ea77_t.jpg" border="0" alt="gatotkaca_bw" width="75" height="100" /></a> <a class="tt-flickr" href="http://www.flickr.com/photos/24572895@N00/249651886/"><img src="http://static.flickr.com/90/249651886_7f3b469edd_t.jpg" border="0" alt="gatotkaca" width="76" height="100" /></a><br />
Gatotkaca sangat hebat tapi sayang dia harus mati di usia muda. Kematian Gatotkaca sudah diatur oleh Prabu Kresna. Prabu Kresna menginginkan kemenangan sempurna bagi pihak Pandawa dalam perang Bharatayudha. Beliau takut dengan panah andalan Karna yang bernama Kunta. Kunta adalah senjata pemberian Batara Indra. Panah tersebut merupakan senjata yang maha ampuh, tidak ada senjata yang lebih hebat dari Kunta. Tapi sayang Panah Kunta hanya bisa digunakan sekali.<span id="more-68"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Rencana Karna untuk menggunakan Panah Kunta untuk menghadapi Arjuna. Tetapi melihat Gatotkaca begitu perkasa menghancurkan pasukan Kurawa. Pihak Kurawa putus asa dan meminta Karna untuk membunuh Gatotkaca tetapi Gatotkaca tidak bisa dihadapi karena Gatotkaca bisa tebang dan bersembunyi di balik awan dan kebal dengan semua senjata pusaka yang ada. Akhirnya Karna tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan Panah Kunta. Karena beliau sadar kalau Gatotkaca tidak dibinasakan maka seluruh Pasukan Kurawa lah yang akan binasa. Dan matilah Gatokaca. Jatuh dari atas langit meremuk bumi. Sebelum menyentuh bumi, Gatotkaca membesarkan tubuhnya sebesar gunung dan membunuh ribuan pasukan Kurawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Skenario Gatotkaca menghadapi Pasukan Kurawa sudah diatur oleh Prabu Krisna. Prabu Krisna percaya kalau Karna pasti akan menggunakan Panah Kunta-nya.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Sewaktu lahir, Gatotkaca berwujud raksasa bernama Putut Tutuka. Namun ketika di Kahyangan terjadi masalah karena diserbu pasukan raksasa yang dipimpin Sakipu, para dewa meminjam Tutuka kepada Bima. Terus Gatotkaca menang dan mendapat tiga hadiah dari pada dewa.</p>
<p>Hadiah pertama adalah brevet penerbang bernama &#8220;kotang Antakusuma&#8221; yang membuat Gatotkaca dapat terbang dengan cepat tanpa menimbulkan ledakan supersonik. Hadiah kedua adalah topi bernama Caping Basunanda, yang mempunyai kesaktian apabila panas tidak merasa panas dan hujan tidak menjadi basah. Hadiah ketiga, berupa sepatu &#8220;Pada Kacarma&#8221; yang mempunyai kesaktian tidak akan kualat walaupun melintasi daerah-daerah angker.</p>
<p>Kutipan dari buku &#8220;Wayang dan Karakter Manusia&#8221; karangan Ir. Sri Mulyono</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Cerita lain yang lebih lengkap:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Raden Gatotkatja putera Raden Wrekiodara jang kedua, ibunja scorang puteri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgadani.</p>
<p>Waktu dilahirkan Gatotkatja berupa raksasa ; karena sangat saktinja, tidak ada sendjata jang dapat snemotong tali pusatnja. Kemudian tali pusat itu dapat djuga dipotong tetapi sarung sendjata Karna jang bernama Kunta, tetapi sarung sendjata itu masuk kedalam perut Gatotkatja, dan menambah lagi kesaktiannja.</p>
<p>Dengan kehendak Dewa-Dewa, baji Gatotkatja itu dimasak sebagai bubur dan diisi dengan segala kesaktian ; karena itu Raden Gatotkatja berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang diawan dan duduk diatas awan jang melintang. Ketjepatan Gatotkatja pada waktu terbang diawan sebagai kilat, liar sebagai halilintar.</p>
<p>Kesakrtiannja dalam perang, dapat mentjabut leher musuhnja dengan digunakan pada saat jang penting.</p>
<p>Gatotkatja diangkat djadi radja di Pringgadani, dan ia disebut kesateria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan.</p>
<p>Dalam perang Beratajuda Gatotkatja tewas oleh sendjata Kunta Karna jang ditudjukan kepada Gatotkatja, waktu Gatotkatja bersembunji dalam awan. Gatotkatja djatuh dari angkasa mengenai kereta kendaraan Karna hingga hantjur lebur.</p>
<p>Gatotkatja beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Ardjuna.</p>
<p>Dalam riwajat, Gatotkatja mati masih sangat muda, hingga sangat disesali oleh sekalian keluarganja.</p>
<p>Gatotkatja bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan berdjanggut. Berdjamang tiga susun, bersunting waderan, sanggul kadal-menek, bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur2, bergelang, berpontoh dan berkerontjong, Berkain keradjaan lengkap.</p>
<p>Menurut kata dalang waktu Raden Gatotkatja akan mengawan, diutjapkan seperti berikut:</p>
<p>Tersebutlah, pakaian Raden Gatotkatja jang djuga disebut kesateria di Pringgadani: Berdjamang mas ber-sinar2 tiga susun, bersunting mas berbentuk bunga kenanga dikarangkan berupa surengpati. (Surengpati berarti berani pada adjalnja. Sunting serupa ini djuga dipakai untuk seorang murid waktu menerima ilmu dari gurunja bagi ilmu kematian, untuk lambang bahwa orang jang menerima ilmu itu takkan takut pada kematiannja). Bergelung (sanggul) bentuk supit urang (sepit udang) tersangga oleh praba, berkantjing sanggul mas tua bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir, berpontoh nagaradja, bergelang kana (gelang empat segi). Berkain (kampuh) sutera djingga (merah tua), dibatik dengan lukisan seisi hutan, berikat-pinggang tjindai hidjau, bertjelana tjindai biru, berkerontjong suasa bentuk nagaradja, untjal (kain sebai) diberi emas anting.</p>
<p>Ditjeritakan, Raden Gatotkatja waktu akan berdjalan ia berterumpah Padakatjarma, jang berkuasa dapat mengawan tak dengan sajap. Bersongkok Basunanda, walaupun pada waktu panas terik takkan kena panas, bila hudjan tak kena air hudjan. Ditjeritakan Raden Gatotkatja menjingsingkan kain bertaliwanda, ialah kain itu dibelitkan pada badan bagian belakang Raden Gatotkatja segera menepuk bahu dan menolakkanlah kakinja kebumi, terasa bumi itu mengeram dibawah kakinja. Mengawanlah ia keangkasa.</p>
<p>Wajang itu diudjudkan sebagai terbang, jalah didjalankan, dari kanan kekiri, dibagian kelir atas sementara kali, lalu ditjatjakkan, ibarat berhenti diatas awan, dan dalang bertjerita pula:</p>
<p>Tersebutlah Raden Gatotkatja telah mengawan, setiba diangkasa terasa sebagai mengindjak daratan, menjelam diawan biru, mengisah awan dihadapannja dan tertutuplah oleh awan dibelakangnja, samar-samar tertampak ia dipandangan orang. Sinar pakaian Gatotkatja jang kena sinar matahari sebagai kilat memburunja. Maka berhentilah kesatria Pringgadani diawan melintang, menghadap pada awan jang lain dengan melihat kekanan dan kekiri. Setelah hening pemandangan Gatotkatja, turunlah ia dari angkasa menudju kebumi.</p>
<p>Adipati Karna waktu perang Beratajuda berperang tanding melawan Gatotkatja. Karna melepaskan sendjata kunta Widjajadanu, kenalah Gatotkatja dengan sendjata itu diarah pusatnja. Setelah Gatotkaja kena panah itu djatuhlah Gatotkatja dari angkasa mendjatuhi kereta kendaraan Karna, hingga hantjur lebur kereta itu.</p>
<p>Tersebut dalam tjerita, Raden Gatotkatja seorang kesateria jang tak pernah bersolek, hanja berpakaian bersahadja, djauh dari pada wanita.</p>
<p>Tetapi setelah Gatotkatja melihat puteri Raden Ardjuna, Dewi Pregiwa, waktu diiring oleh Raden Angkawidjaja, Raden Gatotkatja djatuh berahi, ketarik hati Gatotkatja lantaran melihat puteri itu bertjambang dan berhias serba bersahadja.</p>
<p>Berubah tingkah Raden Gatotkatja ini, diketahui oleh ibunja (Dewi Arimbi) dengan sukatjita dan menuruti segala permintaan Raden Gatotkatja. Kemudian puteri ini diperisteri Raden Gatotkatja.</p>
<p>Gatotkatja berwanda 1 Guntur, 2 Kilat 3 Tatit. 4 Tatit sepuh, 5 Mega dan 6 Mendung.</p>
<p>Sumber:<br />
Sedjarah Wajang Purwa<br />
Pak Hardjowirogo<br />
P.N. Balai Pustaka</p></blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2007/04/22/jabang-tutuka-lahirnya-gatot-kaca.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jabang Tutuka: Lahirnya GatotKaca'>Jabang Tutuka: Lahirnya GatotKaca</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/20/raden-puntadewa.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Puntadewa'>Raden Puntadewa</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/10/18/raden-anantasena.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Raden Anantasena'>Raden Anantasena</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/13/gatotkaca-the-flying-knight-of-pringgadani-son-of-bimasena.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
