Friday, September 3rd, 2010

perbandingan antara jabatan dan gaji, mana yang harus diutamakan pada saat mencari kerja.

Mungkin pernah kita bertanya, untuk apa kita hidup, untuk apa kita bertahan hidup, toh nantinya aku, kamu, dia, semua orang akan mati, mati, mati, membusuk dimakan cacing.
Karena nyawa telah ditiupkan ke tubuh ini sehingga bisa bergerak, berrasa, dan berpikir, maka kita harus hidup seperti yang telah ditetapkan. Kita harus hidup karena kita memang hidup [...]

Dasar dari kehidupan adalah perubahan. Dan perubahan itu abadi. Panas dan dingin. Menang dan kalah. Untung dan rugi. Datang dan pergi. Kuat dan lemat. Benar dan salah. Bahagia dan sedih. Begitulah hidup bergulir, itulah hukum abadi, hukum sebab akibat.
Share on Facebook

Sambil kupejamkan mata aku mendengarkan bait demi bait lagu Klymaxx yang baru saja aku download. Meski belum pernah mendengarkan sebelumnya tapi rasanya telinga ini tak pernah berbohong, hampir kurasakan koleksi laguku yang telah ku nikmati memiliki ketukan dan beat yang hampir hampir mirip, khas beat 80an. Tak seperti biasa, hari hari terakhir ini aku merasa cengeng, tak terasa mataku berkaca kaca. Lagu lagu lama itu telah membawa anganku kembali ke masa lalu, seakan ku dituntunnya untuk melongok lagi ke belakang. Tak sadar aku telah membuka album kenangan lamaku.

Kapan Kawin? Kapan Kapan
Begitulah bunyi sebuah tagline iklan rokok yang sedang marak menghiasi televisi dan sepanjang jalan di Jakarta. Divisualisasikan oleh Agus Ringgo dengan tampang uniknya menjadi pelengkap kekonyolan. Iklan yang menggelitik dan satire yang menertawakan pada kehidupan mengajak untuk menikmati kehidupan.
Share on Facebook

Pertama perlu saya jelaskan bahwa membangun indonesia tidaklah harus berarti bahwa yang bersangkutan harus balik dan berkarya di indonesia. Banyak kontribusi juga yang bisa dilakukan bagi indonesia jika seseorang memilih menetap di luar negeri.

Sepenggal syair lagu Rayuan Pulau Kelapa yang sudah jarang diperdengarkan, kecuali pada waktu peringatan Ulang Tahun Republik ini. Ungkapan hati dari seorang Ismail Marzuki yang mewakili bangsa ini akan kecintaannya pada Indonesia. Negeri yang kaya, Gemah Ripah Loh Jinawi. Negeri yang dipertahankan sampai dengan titik darah penghabisan untuk mempertahankan sejengkal tanah demi Merah Putih.

Kita diajari selalu mendahulukan kepentingan bersama, benar kan? Yang benar dan sesuai realitas adalah kalau dua kepentingan itu bisa berjalan serasi. Memang lebih indah dan benar adalah memang mendahulukan kepentingan bersama. Tapi tidak banyak yang sanggup melakukannya.
Share on Facebook

Kadang kita sering mikir kalau kita bisa melakukan sesuatu kenapa harus suruh orang lain lakukan. Seperti pekerjaan rumah tangga, mencuci, menyapu, dan lain-lain. Kita mengerjakan sendiri karena ingin menghemat uang. Benar uang yang dapat dihemat jumlahnya lumayan, bisa mencapai beberapa ratus ribu. Tapi pernah kereta kritis melintas dipikiran anda bahwa apa yang dilakukan itu sebenarnya membuang sesuatu yang lebih berharga dari uang?

Ada dua tipe orang yang bisa mengatakan “Masih banyak ikan di lautan”. Tipe pertama, orang ini tidak serius waktu mengatakan kata-kata itu, bercanda, untuk menghibur hati. Tipe kedua, orang yang belum mengenal arti cinta sejati. Cinta itu banyak tapi yang mana yang sejati? Can he/she tells you? Makanya “Masih banyak ikan di latuan”.