Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

gajahmada5Terimakasih kepada Langit Kresna Hariadi, karena telah membawa Indonesia lebih mengenal bangsanya sendiri melalui cerita fiksi Gajah Mada.

Kata Pengantar Penerbit

Betapapun panjang sebuah perjalanan, pasti akan sampai juga pada titik akhir. Betapapun sempurna keindahan mentari pagi di ufuk timur, betapapun garang ia membakar bumi tepat di siang hari, ketika senja membayang, toh ia harus tenggelam juga.

Lakon Gajah Mada telah pula sampai di ujungnya. Tragedi Bubat telah melukai begitu banyak pihak dan berdampak sangat luas. Prabu Hayam Wuruk terluka karena cintanya yang sedang mekar tiba-tiba dihadapkan pada maut. Keluarga Raja Majapahit terluka karena akar sejarahnya yang begitu dekat dengan Sunda Galuh mendadak dipangkas dengan paksa. Sunda Galuh adalah pihak yang paling terluka, bukan saja karena harga diri yang dilecehkan tanpa ampun, melainkan juga karena semangat perdamaian, harapan, dan kepercayaan mereka terhadap Majapahit dinodai hingga titik paling hitam.

Bagaimana dengan Gajah Mada? Gajah Mada ditempatkan sebagai pihak paling bersalah atas tragedi itu. Ia dihujat, dicaci, dan dicela. Namun, sesungguhnya sang legendaris ini juga merasa terluka. Ia terluka karena merasa kerja kerasnya selama dua puluhan tahun lebih pada akhirnya tak ada harganya sama sekali. Segala pengorbanan yang ia berikan untuk dapat menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Majapahit justru gagal di langkah terakhir.

Namun, tak peduli betapapun kecewa Gajah Mada mendapati kenyataan cita-citanya tak terwujud secara sempurna, ia tetap bersalah telah menyebabkan ratusan orang terbantai. Ia bersalah telah mengubah lengkung janur kuning menjadi ratap perkabungan. Gajah Mada pun harus menerima hukumannya. la dihempaskan dari dhamparkepatihan dan harus melewati hari tua di Madakaripura, sebuah tempat terpencil dan jauh dari segala ingar-bingar urusan duniawi.

Akan tetapi, sekali lagi sejarah membuktikan bahwa nama besar Gajah Mada bukan isapan jempol belaka. Sepeninggal Gajah Mada, Majapahit mulai dilanda berbagai persoalan. Persoalan terbesar adalah ancaman disintegrasi. Tanpa Gajah Mada, negara-negara bawahan Majapahit tak lagi takut memperjuangkan kemerdekaan.

Dan, Prabu Haym Wuruk akhirnya harus kembali mengandalkan Gajah Mada. Setelah setahun menyepi di Madakaripura, Gajah Mada dipanggil untuk menduduki jabatannya kembali. Hanya saja, semua ada masanya. Sepertinya, puncak kejayaan memang sudah saatnya berlalu dari Majapahit karena Gajah Mada tetaplah manusia biasa. Gajah Mada tidak mungkin dapat membendung laju sang waktu. Gajah Mada tidak mungkin pula dapat melawan kodrat.

Dari tiada menjadi ada, lalu kembali ke tiada. Semua yang hidup pasti berujung pada kematian. Begitulah yang bakal terus terjadi. Gajah Mada dengan segala romantika dan gegap gempitanya usai sudah. Drama Majapahit adalah cermin yang merefleksikan betapa tidak ada manusia yang sempurna, seorang Gajah Mada sekalipun, bahwa hidup tidak berhenti pada satu titik, bahwa ambisi harus dikendalikan, dan bahwa kerendahan hati mesti dimiliki.

Terima kasih tak terhingga kami sampaikan kepada pembaca sekalian yang telah begitu setia mengikuti perjalanan Gajah Mada hingga di ujungnya ini.

Tiga Serangkai

Selalu ada cerita dibalik cerita. Ada beberapa pengalaman menarik dari Langit Kresna Hariadi (nice name, aku jadi iri dengan beliau) yang didapat dari penulisan buku seri Gajah Mada. Simak kata pengantar dari penulis.

Kata Pengantar Dari Penulis

Ada banyak kisah di balik proses kreatif yang saya lakukan dalam penulisan buku seri Gajah Mada yang Anda baca selama ini, mulai dari yang menyebalkan hingga yang menggugah semangat, dari yang mengharukan sampai yang menyentuh permukaan hati. Email saya dipenuhi banyak masukan, saran, kritik, dan hal-hal yang sungguh indah serta tidak terduga seperti yang saya ceritakan berikut ini.

Seorang pengirim email yang tidak perlu saya sebut namanya, mengaku terpesona pada beberapa kutipan bahasa Jawa yang saya gunakan. Memang saya menulis kalimat sasadara manjer kawutyan, yang artinya lebih kurang adalah bulan bersinar tampak jelas wujudnya. Rangkaian kalimat itu agaknya menjadi penyebab seorang perempuan yang sedang hamil tua merasa gelisah. Perempuan yang sudah tahu anaknya akan lahir berjenis kelamin sama dengan dirinya itu merengek kepada sang suami tercinta agar anaknya nanti diberi nama Sasadara Manjer Kawuryan.

Didorong oleh cinta yang sedemikian besar kepada sang istri, sang suami pun mengirim surat elektronik meminta izin kepada saya. Rupanya, ia amat menghormati saya sebagai pemilik kalimat itu tak ubahnya hak cipta. “Kalau diizinkan terima kasih, kalau tidak boleh tidak apa-apa,” demikian isi suratnya. Tanpa harus menunggu lama untuk menimbang, tidak hanya izin, restu pun saya berikan.

Menurut penulis email itu selanjutnya, orang tuanya dan keluarganya sampai terkaget-kaget mendapati bayi itu diberi nama aneh itu. Saya pun tidak sulit menebak, setelah berjuang keras menghubungi saya, orang tua bayi itu masih harus berjuang keras menjelaskan kepada kerabatnya atau siapa pun yang mempersoalkan nama tersebut. Dalam pelepasan buku saya, Gajah Mada, Perang Bubat di Jakarta akhir 2006 lalu, ayah bayi itu hadir. Saya pun memberi ucapan selamat dengan sebuah pelukan.

Tak hanya orang tua muda dari Jakarta ini, seorang pengirim email lain pun menandai anak gadisnya dengan nama Ardhanareswari. Itu adalah gelar Ken Dedes sebagai perempuan utama yang melahirkan raja-raja. Setelah nama yang ia anggap indah itu berhasil tercatat di akte kelahiran anaknya, baru ia mengabari saya. Saya senang mendengar itu dan saya ucapkan selamat pula.

Lalu, seorang perempuan dari Jember, ia mengaku berprofesi sebagai bidan. Ia sering kelimpungan jika dimintai bantuan memberi nama anak yang lahir selamat lewat bantuannya. Bidan itu tidak tanggung-tanggung minta dibuatkan langsung dua puluh lima buah nama. Maka, seperti ketika saya menyiapkan sederet nama sebelum pengerjaan sebuan novel, kali itu saya lakukan pula untuk sebuah alasan berbeda.

Melayani pembaca dalam pertemuan secara langsung sungguh menyenangkan hati. Itu yang saya rasakan ketika waktu berjalan terasa sangat cepat dalam peluncuran buku Gajah Mada, Perang Bubat, di Jakarta Hilton Convention Centre akhir tahun 2006 itu. Saya layak bersyukur karena semua apresiasi, semua pertanyaan dan tanggapan itu bisa saya jawab dengan amat baik.

Namun, pertanyaan yang sangat menggelisahkan hati justru datang dari sebuah acara diskusi yang digelar di Universitas Parahyangan, Bandung, beberapa hari menjelang tutup tahun 2006. Itu terjadi karena buku saya bertemakan Perang Bubat. Tersadarlah saya tengah memasuki Bandung. Itu berarti, saya harus ekstra hati-hati dalam berbicara mengingat saya seperti memasuki kandang macan. Pertanyaan itu datang dari salah seorang peserta yang menyoal kambing hitam yang dimunculkan pengarang terkait perang di lapangan Bubat.

Saya tegaskan dalam acara diskusi itu dan saya tegaskan pula lewat kata pengantar buku ini bahwa saya sama sekali tak berniat membelokkan sejarah. Apa yang saya tulis masih berada di koridor jurnalistik. Insya Allah saya menulis berimbang antara bagaimana sikap dan sudut pandang Gajah Mada dengan bagaimana sikap dan sudut pandang Raja Sunda Galuh serta semua pihaknya. Cek dan ricek saya lakukan melalui riset berat dengan mewawancari banyak pihak.

Kemunculan orang-orang di sekitar Gajah Mada yang memberi sumbangsih ikut menjerumuskan Gajah Mada bukanlah pembelokan, bukan pula memunculkan kambing hitam. Namun, semata-mata berdasar logika sederhana bahwa di pusat kekuasaan pasti ada tarik ulur. Ada yang setuju dan ada yang tak setuju, ada yang mendukung membabi buta dan ada pihak yang berusaha mencegah mati-matian. Yang setuju pun bisa berlebihan dalam rangka mencari muka sehingga bias pun sangat mungkin terjadi. Sabotase perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka saya yakini muncul tidak sekadar karena Gajah Mada ingin Dyah Pitaloka dibawa ke Majapahit sebagai persembahan. Namun, gagasan menggagalkan perkawinan itu bisa berasal dari orang-orang di sekeliling Gajah Mada. Yang demikian itu bukan pembelokan dan bukan dalam rangka memunculkan kambing hitam.

Perang Bubat agaknya merupakan isu yang sangat peka. Perang di lapangan Bubat telah lewat ratusan tahun yang lalu. Namun, dendam dari kisah lama itu masih terlihat jejaknya hingga sekarang. Warisan emosional itu rupanya masih terjaga, entah kapan akan pudar. Kisah itu menimbulkan banyak mitos buruk, di antaranya adalah sebaiknya perempuan Sunda jangan mau diperistri orang Jawa. Semangat dari penulisan Gajab Mada,

Perang Bubat yang saya lakukan, di antaranya adalah agar generasi kini dan seterusnya mampu dengan bijak menyikapi kejadian itu, lalu menempatkannya dalam laci sejarah semata, tanpa harus membuat episode lanjutannya.
Buku kelima yang menutup rangkaian serf Gajah Mada ini saya beri judul Gajab Mada, Madakaripura Hamukti Moksa. Penulisan buku ini bisa dibilang pekerjaan ringan, tetapi melelahkan. Semangat untuk terus berkarya tak selalu mulus. Saya sering kehilangan mood. Namun, alhamdulillah, berkat dorongan sahabat-sahabat saya, Gajah Mada, Madakaripura Hamukti Moksa tuntas saya tutup dengan akhir yang kembali mengejut, insya Allah.

Saya tak menyangka, seri Gajah Mada ternyata mendapat apresiasi yang amat baik. Saya lihat itu dari banyaknya tanggapan yang masuk, baik di email maupun dari tetap bertahannya (dalam dua tahun ini) serial Gajah Mada di rak-rak buku laris toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Saya merasa semua itu bukan karena saya, melainkan lebih oleh apresiasi para pembaca. Untuk itu, perkenankanlah saya menyampaikan banyak terima kasih. Saya bukan apa-apa tanpa Anda.

Email saya tidak berubah. Saya tetap berada di Langit kresna_ hariadi (@) yahoo.com, de_manyul (@) yahoo.co.id, langitkresnahariadi (@) yahoo.co.id. Saya persilakan Anda menjadikan tiga alamat itu sebagai recycle bin untuk apa saja, untuk saran, tanggapan, atau caci maki.

Dalam menutup buku ini, saya sampaikan banyak terima kasih kepada kakak saya, Lintang Waluyo, yang tak pernah surut memberi dorongan dalam bentuk gagasan, Dr. Mega Teguh Budiarto dan Drs. Moedjiono Santosa, masing-masing di UNESA Surabaya, juga Drs. Mendung Slamet Budiono di Denpasar yang telah berkenan menjadi proof reader buku-buku saya, juga kepada Bapak Luluk Sumiarso, Dirjen Migas yang apresiasi beliau membuat saya tersipu-bukan karena apresiasinya yang menyebabkan saya harus berterima kasih, melainkan ajakan main ketoprak di TIM Jakarta yang membuat saya terbungkuk-bungkuk karena sungguh itu pengalaman dan kesempatan langka-pentas ketoprak itu terjadi pada tanggal 2 Februari 2007.

Terima kasih juga untuk istri saya, Rina Riyantini Langit, yang tiap pagi dengan bijak membiarkan saya bangun kesiangan tanpa harus marah, lalu Poundra Swasty Ratu dan Amurwa Pradnya Sang Indraswari yang menjadikan hidup di rumah yang sempit itu menjadi begitu meriah.

Penulis

Incoming search terms:

18 thoughts on “Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

  1. Langit KH

    Hallo, penjualan CANDI MURCA I KEN AROK HANTU PADANG KARAUTAN sudah dimulai dari sekarang, jumlah halaman 832 akan terbit Akhir Juli atau awal Agustus dengan harga Rp 75000 sudah didiskon 25% sudah termasuk ongkos kirim ke alamat (melalui jasa pos, TIKI dlll) ke rekening antara lain :
    . BCA 2000282670
    . BRI 0021-01-044348-50-5
    . BNI46 0125721771
    . MANDIRI 143-00-0497600-5
    atas nama Suwandono SE, lebih jelasnya masuk ke http://www.langitkresnahariadi.com klik Panduan

  2. langit kresna hariadi

    Apa yang terjadi bila di tahun 2011 ditemukan jejak bayangan sebuah candi dengan ukuran jauh lebih besar dari Borobudur ? Berpikir macam itu identik dengan ide tentang apa yang terjadi jika bumi ini didatangi sebuah pesawat angkasa luar yang besarnya jauh lebih besar dari sebuah kota (Film The Independent Day)

    Demikianlah candi itu dibuat pada zaman Mataram tepatnya di masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi yang sangat besar itu terpaksa dihilangkan dari pandangan mata karena ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menghancurkannya, tak ada pilihan lain untuk melindunginya maka ia harus dimurcakan dan hanya dalam bulan purnama tertentu tampak bayangannya, yang hanya lamat-lamat berada di antara ada dan tiada.

    Uwwara Kenya perempuan dari masa silam itu, ia memiliki wajah yang amat cantik yang tak pernah pudar meski sang waktu bergeser deras. Bila Uwwara Kenya murka dari keningnya muncul mata ke tiga yang mampu menghanguskan apa pun. Uwwara Kenya dikawal dengan setia oleh tujuh orang pengikutnya yang oleh karenanya disebut kelompok tujuh, didukung oleh ribuan ekor codot berukuran besar, salah satu di antaranya kelelawar berkulit albino yang yang dengan setia melekat mengikuti ke mana pun majikannya pergi.

    Tujuh pengikut Uwwara Kenya memiliki pertanda berupa ular melingkar yang menempatkan diri di telapak tangan di balik kulit di atas daging yang apabila purnama datang akan menyebabkan terjadinya perubahan tujuh orang gedibal itu, wajah mereka berubah mengerikan dengan kemampuan yang mengerikan.

    Namun Uwwara Kenya memiliki musuh yang dengan mati-matian berusaha melindungi candi itu. Musuh yang berderajad Dharmadyaksa sebuah agama itu berusaha mencegah apa pun yang dilakukan Uwwara Kenya bahkan melalui pertempuran yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Puncak dari pertempuran itu Uwwara Kenya kalah dan memutuskan bereinkarnasi di masa yang akan datang, di mana nantinya ia bisa melanjutkan niatnya menghancurkan candi.

    Namun Sang Dharmadyaksa menyusul bereinkarnasi pula.

    Uwwara Kenya yang terlahir lebih dulu berusaha mati-matian memburu titisan kembali itu yang dipastikan akan terlahir kembali dari perkawinan kakak beradik yang masing-masing tidak menyadari mereka adalah kakak beradik. Uwwara Kenya mengamuk membabi buta, hanya sayang titisan kembali Sang Dharmadyaksa itu dikawal ketat oleh pengikutinya yang berjumlah lima orang yang masing-masing siap berkorban nyawa. Jumlah mereka yang lima selanjutnya disebut sebagai kelompok lima .

    Lima orang pengawal kelahiran kembali Sang Dharmadyaksa berhadapan dengan tujuh orang kaki tangan Uwwara Kenya .

    Adalah ketika Ken Arok baru seorang maling yang malang melintang dan membuat resah akuwu Tumapel Tunggul Ametung, kisah Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan ini dimulai. Parameswara yang ingin mengetahui orang tua kandungnya pergi meninggalkan Bumi Kembang Ayun di Blambangan dan menolak permintaan ayah angkatnya menggantikannya sebagai pimpinan di padepokan olah kanuragan itu.

    Pada saat yang sama seorang gadis bernama Swasti Prabawati justru datang menghadap Ki Ajar Kembang Ayun meminta petunjuk mencari jejak ayahnya yang telah sebulan menghilang. Perkenalan Parameswara dan Swasti Prabawati bermuara ke hubungan asmara tanpa mereka tahu mereka adalah kakak beradik. Parameswara berayah Panji Ragamurti, seorang Patih di Kediri sementara Swasti Prabawati akhirnya tahu ayah yang dicintainya ternyata bukan ayah kandungnya, ia terlahir dari Narasinga melalui pemerkosaan yang dilakukan terhadap seorang perempuan yang akhirnya mati ketika melahirkan gadis buah pemerkosaan itu.

    Amat terlambat Parameswara dan Swasti Prabawati sadar, bahwa Narasinga dan Panji Ragamurti adalah orang yang sama.

    Bayi yang akan lahir dari perkawinan kakak beradik itulah yang justru sedang ditunggu dan diburu-buru oleh Uwwara Kenya dan tujuh orang pengikutnya yang celakanya menempatkan Parameswara dan Swasti Prabawati terjerat takdir sebagai pengikut perempuan itu pula, karena dari masing-masing telapak tangannya muncul tanda ular yang menggeliat menempatkan diri di balik kulit di atas daging.

    Parameswara yang telah berubah menjadi sakti mandraguna sejak menenggak air suci Tirtamarthamanthana Nirpati Vasthra Vyassa Tripanjala harus berperang melawan dirinya sendiri terutama ketika bulan purnama menyita kesadarannya. Namun dengan penuh pengabdian dan bahkan rela berkorban nyawa kelima pelindung kelahiran calon jabang bayi itu berjuang keras memberikan perlawanan.

    Ketika pertikaian itu terjadi, sebuah padang ilalang bernama Karautan sedang menyita perhatian seorang Brahmana bernama Lohgawe dan seorang Empu pembuat keris dari Lulumbang. Padang Karautan itu sungguh sebuah tempat yang mengerikan karena dihuni berbagai binatang buas, setiap malam sering terdengar aum harimau dan lolong ratusan ekor serigala.

    Yang mencuri perhatian Brahmana Lohgawe adalah seorang perampok dan maling kecil bernama Ken Arok yang menjadikan tempat itu sebagai persembunyian. Mata Sang Brahmana Lohgawe sangat awas terhadap keajaiban alam, ia menduga Ken Arok yang maling kecil itu merupakan Titisan Syiwa, yang kelak akan menjadi cikal bakal Raja di tanah Jawa.

    Sebaliknya Empu Gandring yang hadir pula di tempat itu mempunyai ketajaman mata dalam bentuk yang lain, ia melihat sesuatu yang melayang-layang di langit. Empu Gandring merasa was-was tersita perhatiannya oleh batu bintang yang melesat cepat di angkasa, jenis batu yang ia yakini bakal menimbulkan bencana. Dengan ketajaman mata hatinya Empu Gandring berusaha menerka di daerah mana batu bintang itu akan jatuh dan menimbulkan bencana. Meski belum terjadi, Empu Gandring melihat asap berada di mana-mana, asap kekuningan berasal dari bintang jatuh yang menebar kematian, berburu menyergap makhluk apa pun yang berdaging, dihisap habis menyisakan tulang belulang.

    Mata hati Empu Gandring belum mampu melihat, akan jatuh di mana batu bintang itu.

    Dalam perjalanannya, Parameswara harus bersinggungan dengan urusan Ken Arok, karena Hantu dari Padang Karautan itu adalah penjilmaan kembali dari Rakai Walaing Pu Kumbayoni, orang berusia panjang yang menunggu kematiannya di balik Air Terjun Seribu Angsa, orang itulah yang telah memberinya air suci Tirtamarthamanthana Nirpati vasthra Vyassa Tripanjala yang menyebabkan ia menjadi sakti mandraguna karena kesediaannya memenuhi permintaan orang itu dengan membunuhnya.

    Pun keterlibatan Parameswara terhadap Ken Dedes tidak juga bisa dihindari karena pada diri Ken Dedes melekat jiwa Sri Sanjayawarsa, permaisuri Rakai Walaing Pu Kumbayoni yang juga mati di tangan melalui sebilah keris bernama Sang Kelat. Parameswara terpaksa memenuhi permintaan membunuh mereka karena hanya melalui cara itulah ia bisa melindungi anaknya yang bakal menjadi bulan-bulanan Uwwara Kenya .

    Sementara itu di tahun 2011,

    Parra Hiswara mengalami kecelakaan ketika menggali tanah sebagai tandon WC, tanah ambrol menyebabkan ia tertarik oleh gravitasi bumi karena di bawah tanah rupanya terdapat sebuah sumur vertikal. Mahdasari sang Istri mengalami kepanikan luar biasa pun demikian pula dengan para tetangga yang berusaha menolong. Hirkam menggunakan tali carmantel menyusur turun mendapati kenyataan, sumur yang bagai tanpa dasar itu sangat aneh. Hirkam yang berhasil keluar nyaris kehilangan nyawa karena makhluk tak dikenal mencakar punggung dan kakinya.

    Tak ada pilihan lain dan dengan mengabaikan keselamatan Parra Hiswara lobang sumur itu ditutup dan dicor dengan semen. Dengan demikian bisa dipastikan Parra Hiswara terkubur untuk selamanya di gua bawah tanah itu.

    Namun Parra memang mendapati keadaan yang aneh di ruang bawah tanah itu. Ia menemukan tujuh buah meja batu melingkar yang layak disebut tempat tidur karena ada tujuh orang tidur di atasnya. Pada tujuh meja batu di luar hanya ada enam orang berbaring satu di antaranya kosong sementara meja batu di bagian tengah tidur seorang perempuan amat cantik dalam keadaan telanjang bulat.

    Di tempat itulah Parra Hiswara bertemu dengan orang yang memiliki ujut sama dengan dirinya, bak pinang dibelah dua, orang dari masa silam itu mengaku bernama Parameswara, yang mestinya tidur di meja batu ke tujuh namun memilih terpicing beratus ratus tahun lamanya karena tidak sudi menjadi kaki tangan Uwwara Kenya. Parra Hiswara tentu kaget ketika orang itu menyebut telah menunggu pertemuan itu delapan ratus tahun lamanya. Parameswara minta kepada Parra Hiswara agar bersedia membunuh dirinya, hanya itulah cara agar ia bisa keluar kembali ke permukaan.

    Parra Hiswara tidak punya pilihan lain, dengan sebilah keris aneh bernama Sang Kelat yang ia terima, orang itu dibunuh dan ambyar menjadi serpihan abu memunculkan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Parra Hiswara yang berusaha keras bertahan untuk tidak terputar mampu melihat saat-saat terakhir seekor codot berkulit putih muncul dan melukai telapak tangannya.

    Ketika Parra Hiswara tersadar, ia terkejut karena waktu telah berubah menjadi malam penuh bintang. Parra Hiswara menganggap dirinya gila ketika berada di sebuah candi yang sangat besar, candi yang terletak di kaki dua buah gunung, gunung Merapi dan Merbabu, padahal jarak yang membentang dari dua gunung itu ke rumahnya di Malang nyaris empat ratus kilometer.

    Rupanya Parra Hiswara telah terlempar jauh melintasi dimensi ruang dan waktu. Ketika Parra Hiswara kembali ke kota Singasari tak jauh dari Malang , ia mendapati istri yang dicintainya hilang diculik orang.

    Di tahun 2011 itu, kelompok tujuh yang masing-masing memiliki tanda berbentuk ular melingkar di telapak tangannya mulai bermunculan. Pun demikian pula kelompok lima yang memiliki rajah berbentuk cakra mulai muncul pula memberikan perlawanan mati-matian. Apalagi sejak Parra Hiswara muncul di pelataran candi, jejak bayangan candi itu mulai sering muncul dan bisa dilihat di bulan purnama, semakin banyak saja orang yang bisa melihat ujutnya.

    Meski candi itu masih murca, berada di wilayah bayang-bayang antara ada dan tiada.

  3. Yuli Andriansyah

    Terima kasih Pak Langit sudah mau mengenalkan secara langsung buku baru beliau. Tapi kayaknya karena habis mudik, nih belum sempat ke toko buku. Atau jangan-jangan untuk saat ini baru dilayani penjualan langsung dari penerbit dan belum dilempar ke pasaran? Bisa jadi. Tapi bagaimana pun terima kasih dan semoga sukses terus Pak Langit.

  4. wesley sinabariba

    Alangkah senangnya hatiku bila novel ini diangkat kedalam sebuah film.. dunia perfilman kita sudah terlalu berjejalan dengan kisah2 hantu dan percintaan remaja yang tidak mendidik.. Kini saatnya film2 Indonesia mulai mengadopsi cerita2 sejarah. Betul?

  5. teguh

    Setuju sekali klo novel2 kaya gini diangkat jadi film, tapi bikinnya yang bagus, biar bisa ngalahin red cliff lah minimal. Jangan cuman pocong dan kawan2 nya.
    buku yang kaya gini yang bagus diangkat jadi film juga Sanggrama Wijaya juga bagus tuh.

  6. agung cahyadi

    Pak Langit, saya sangat menggemari tulisan-tulisan penjenengan. apalagi nama-nama yang ada dalam tulisan bapak. saat iniistri saya lagi mengandung. mohon kiranya penjenegan berkenan, kersa memberikan daftar nama-nama yang bagus untuk anak saya.
    sebelum dan sesudahnya saya haturkan
    matur sembah nuwun

  7. dodik eko prasetyo

    Pak Langit, Saya adalah orang yang nggak begitu hobby baca novel…terutama novel2x yang halamannya tebal.tapi ketika baca cerita tentang Gajah Mada entah mengapa saya nggak mau berhenti baca sampai lupa makan dan mandi. ini cerita hebat dengan gaya tutur yang hebat pula. bravo pak langit. terus berkarya.

  8. Tian

    setelah saya baca banyak mengenai gajah mada dan berdiskusi dengan banyak orang termasuk ahli kebathinan, ada kesimpulan bahwa terdapat skenario besar untuk menjatuhkan Gajah Mada.

    Sebagai mana yang sampeyan tulis bahwa di seluruh Nusantara banyak orang gentar dengan Gajah Mada, pasti tidak sedikit yang marah, benci, iri.

    untuk melawannya langsung tidak mungkin, karena sosok Gajah Mada yang sangat Agung.
    sehingga perlu muslihat unutk menjatuhkannya.

    Dia tokoh besar yang cinta negaranya, dan peristiwa Bubat menyebabkan dia terpukul.
    membuat beliau malu adalah salah satu cara, begitupula dengan mengadu domba dengan pihak sunda.

    jika kita membaca buku Arok Dedes, kejatuhan pemerintahan Sukarno dan jatuhnya pemimpin-pemimpin besar bangsa ini, ada kesamaan dengan kejatuhan kejayaan Gajah Mada.

    Pejuang kita juga banyak yang kalah dengan penjajah dengan cara muslihat.

    Coba Renungkan Peristiwa Bubat.

    Adalah tindakan bodoh, dengan mengorbankan ribuan prajurit untuk menghadapi serombongan pengantar pengantin.

    Beliau orang cerdas yang punya taktik dan strategi perang handal, walaupun rombongan itu penuh dengan orang sakti, bukan hal yang mustahil apabila Gajah Mada bisa mengalahkannya hanya dengan sedikit korban dari pihaknya.

    semoga inin bisa menjadi renungan.

    sehingga tidak perlu ada kebencian antara sunda dan jawa.

    negara ini sedang krisis, perlua adanya jiwa kebangsaan dan kebersamaan tanpa permusuhan untuk membangun bangsa dan mengembalikan posisi pada semula.

    HIDUP INDONESIA..!!!!!
    HIDUP NUSANTARA…!!!!!

  9. Daus

    Andai Mahapatih Gajahmada hidup kembali..

    Sikap kata apa yang terlontar dari sang Mahapatih..

    Ambalat…Alutsista…Korupsi..Kepongahan Juragan Asing..Kepandiran raja-raja politik..dan seribu satu lakon peristiwa di Nusantara sekarang ini..

    Andai sang Mahapatih hidup kembali..

    Serangan bangsa TarTar dan bangsa Rambut Jagung akan ditepis..Tumasek dan Semenanjungnya akan tunduk hormat..dan perut buncit korupsi akan jera…

    Andai sang Mahapatih hidup kembali..

    Bendera Gula Kelapa akan berkibar kencang..
    Dipandu putra-putri untuk kebesaran Nusantara..
    Tak gentar menghadapi bangsa-bangsa di utara…
    di bawah perlindungan Bhayangkara…
    Bendera Gula Kelapa akan disegani di penjuru dunia..

    Andai sang Mahapatih hidup kembali..

    Bagaskara Manjer Kawuryan

  10. reed

    Sebenarnya korban2 dari kejayaan Majapahit itu bukan hanya orang sunda saja, bahkan korban orang jawa jauh lebih banyak, juga orang sumatera, dan dari kerajaan2 yang ditaklukkan oleh Gajah Mada. Jadi tidak perlu ada dendam turun temurun.

  11. Panembahan Ratu

    Tian :
    setelah saya baca banyak mengenai gajah mada dan berdiskusi dengan banyak orang termasuk ahli kebathinan, ada kesimpulan bahwa terdapat skenario besar untuk menjatuhkan Gajah Mada.
    Sebagai mana yang sampeyan tulis bahwa di seluruh Nusantara banyak orang gentar dengan Gajah Mada, pasti tidak sedikit yang marah, benci, iri.
    untuk melawannya langsung tidak mungkin, karena sosok Gajah Mada yang sangat Agung.
    sehingga perlu muslihat unutk menjatuhkannya.
    Dia tokoh besar yang cinta negaranya, dan peristiwa Bubat menyebabkan dia terpukul.
    membuat beliau malu adalah salah satu cara, begitupula dengan mengadu domba dengan pihak sunda.
    jika kita membaca buku Arok Dedes, kejatuhan pemerintahan Sukarno dan jatuhnya pemimpin-pemimpin besar bangsa ini, ada kesamaan dengan kejatuhan kejayaan Gajah Mada.
    Pejuang kita juga banyak yang kalah dengan penjajah dengan cara muslihat.
    Coba Renungkan Peristiwa Bubat.
    Adalah tindakan bodoh, dengan mengorbankan ribuan prajurit untuk menghadapi serombongan pengantar pengantin.
    Beliau orang cerdas yang punya taktik dan strategi perang handal, walaupun rombongan itu penuh dengan orang sakti, bukan hal yang mustahil apabila Gajah Mada bisa mengalahkannya hanya dengan sedikit korban dari pihaknya.
    semoga inin bisa menjadi renungan.
    sehingga tidak perlu ada kebencian antara sunda dan jawa.
    negara ini sedang krisis, perlua adanya jiwa kebangsaan dan kebersamaan tanpa permusuhan untuk membangun bangsa dan mengembalikan posisi pada semula.
    HIDUP INDONESIA..!!!!!
    HIDUP NUSANTARA…!!!!!

    Gajah Mada mungkin seorang Pahlawan bagi negeri Wilwatikta. Seperti Rahwana yang juga pahlawan bagi bangsa Alengka (Srilanka). Akan tetapi seluruh negeri telah memahami sejarah itu.. Tegal Bubat adalah saksi dimana Gajah Mada telah melakukan tindakan licik dan culas demi sebuah ambisinya, “Ambisi diluar batas langit”. Saat Majapahit memperluas wilayah kekuasaannya dengan menjajah negeri2 dinusantara untuk sebuah pengakuan bahwa negeri Wilwatikta adalah negeri terbesar yang memiliki pengaruh kuat atas negeri-negeri lainnya, sementara kerajaan Sunda sendiri tidak merasa bergantung kepada negara lain.

    Gajah Mada memang seorang ahli dalam siasat tempur dan politik, dan dia sendiri tentu telah mengukur bahwa negeri sunda terlalu serat dengan orang-orang kuat, maka Gajah Mada mempunyai siasat lain untuk menaklukan Galuh Pakuan.
    Apakah itu yang yang disebut sikap kesatria ketika rombongan iring-iringan pengantin dihadapkan dengan sebuah pasukan besar dengan kekuatan penuh dan senjata lengkap?
    Apakah Gajah Mada tidak memiliki nyali untuk melakukan perang terbuka ?

    Inilah bukti bahwa Gajah Mada sudah merasa kehilangan daya dan upayanya untuk menaklukan negeri Sunda. Ia merasa malu dengan Amukti Palapa yang dia sumpahkan dihadapan seorang Tribuana.

    Bukankah negeri-negeri di sepenanjung hingga kitai nagari menganugerahkan gelar kepada Sri Baduga Mahara sebagai “Maharaja Wangi” (seorang raja yang harum namanya) karena ia telah mampu membela hak dan kehormatan bangsa serta negaranya.
    Bagaimana dengan Majapahit sendiri ? tercoreng dan nista namanya dihadapan negeri-negeri nusantara.

    Dan ini sudah Jelas kalau Gajah Mada sendiri tidak memiliki nyali terhadap Galuh Pakuan, maka siasat licilah yang dipergunakan untuk melampiaskan ambisinya.

    Saya akui Gajah Mada termasuk orang kuat yang telah berhasil melakukan tugas perluasan wilayah negaranya, tapi Gajah Mada tidak mampu mengenali dirinya sendiri sebagai manusia biasa, bukan yang paling sempurna, dan tidak luput dari suatu kegagalan.

  12. Panembahan Ratu

    Daus :
    Andai Mahapatih Gajahmada hidup kembali..
    Sikap kata apa yang terlontar dari sang Mahapatih..
    Ambalat…Alutsista…Korupsi..Kepongahan Juragan Asing..Kepandiran raja-raja politik..dan seribu satu lakon peristiwa di Nusantara sekarang ini..
    Andai sang Mahapatih hidup kembali..
    Serangan bangsa TarTar dan bangsa Rambut Jagung akan ditepis..Tumasek dan Semenanjungnya akan tunduk hormat..dan perut buncit korupsi akan jera…
    Andai sang Mahapatih hidup kembali..
    Bendera Gula Kelapa akan berkibar kencang..
    Dipandu putra-putri untuk kebesaran Nusantara..
    Tak gentar menghadapi bangsa-bangsa di utara…
    di bawah perlindungan Bhayangkara…
    Bendera Gula Kelapa akan disegani di penjuru dunia..
    Andai sang Mahapatih hidup kembali..
    Bagaskara Manjer Kawuryan

    Hahaha.. belum tentu brow! Bukankah Gajah Mada sendiri seorang penjajah. Ia menjajah negeri-negeri agar mau bertekuk lutut di bawah pemerintah Majapahit. Disini orang hanya melihat bahwa Gajah Mada adalah seorang kuat dan perkasa tanpa melihat sisi negatif dari penjajahannya. Bukankah Rahwana juga seperti itu…? menjajah! Akan tetapi tetap dielu-elukan sebagai seorang dewa dan pahlawan bagi bangsa dan negara Alengka (Srilanka) sampai dengan sekarang.

    Gajah Mada meminta supaya Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti kepada Majapahit. Apakah itu bukan sebagai penghinaan terhadap bangsa lain ?

    Saya rasa Gajah Mada tidak pantas dijadikan tokoh teladan dalam sejarah perjuangan bangsa. Dia sangat berbeda dengan Sanghrama Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) yang berhasil membangun Majapahit Wilwatikta dengan tetesan darah dan perjuangan rakyat Shingasari yang terjajah.

  13. Suro Bladeg

    Hayam Wuruk terlahir dari rahim Tribuana tetapi siapa ya ayahandanya ? apakah Sri Jayanegara, karena dia tidak ingin tahta Wilwatikta jatuh ketangan orang lain ? Kalau dipikir lagi padahal Jayanegara terkenal suka bermain perempuan tapi tidak punya anak dari yang lainnya.

    Apakah skandal Gajah Mada dengan Tribuana ? mungkin.. Gajah Mada mau mengembalikan tahta kepada penerus Wijaya saat dirampas oleh Kuti, lalu Gajah Mada mengajukan syarat skandal dengan Tribuana dan akhirnya lahirlah Hayam Wuruk. Masalahnya garis silsilah Hayam Wuruk ini tidak tertoreh diprasasti manapun siapa gerangan ayahnya ? Beda dengan para leluhur dan penerusnya. Hanya ada cerita-cerita yang tidak menguatkan bukti sejarah (fiktif) kalau Hayam Wuruk adalah putra dari seorang lain, misalnya saja Cakradara.

    Coba kita berpikir secara logika saja jangan terpengaruh dengan lakon yang dihebatkan atau penjunjungan dari tokoh-tokoh tersebut.

  14. Raden Segara

    ya,, ya… artinya si Gajah Mada itu seorang pecundang yang pengecut. Kalaw memang dia merasa perkasa kenapa tidak mengadakan perang terbuka. Iring-iringan pengantin kok dihadapkan dengan pasukan bersenjata lengkap. Sebaliknya kalaw si Gajah sendiri bawa iring-iringan pengantin ya sama saja ga bakal bisa hidup kalau dikepung ribuan balatentara. Semoga pytra-putri bangsa indonesia tidak meniru perwatakan Gajah Mada yang ambisius dan licik tidak terhormat.

  15. Prabu Silihwangi

    Mahisa Campaka – cucu Ken Arok dan Ken Dedes – berbesan dengan Darmasiksa, Raja Sunda. Hal itu terjadi karena anak Mahisa Campaka yang bernama Dyah Lembu Tal diperisteri oleh Rakeyan Jayadarma (putera mahkota / anak raja Sunda Darmasiksa. Putera Mahkota tersebut meninggal sebelum menjadi raja dan Dyah Lembu Tal serta anak mereka, Raden Wijaya, kembali ke Singasari. Raden Wijaya kemudian menjadi menantu Kertanegara (Raja Singasari terakhir). Raden Wijaya inilah yang menjadi pendiri Kerajaan Majapahit.

    Gajah Mada tidak bisa meredam ambisinya, sehingga dia buta kalau leluhur Majapahit itu adalah negeri Sunda, yang tertua dan termashur.

    Dan sebenarnya negeri Sunda cukup bangga karena anak cucunya telah berhasil membangun Majapahit Wilwatikta. Namun bangsa kami tidak akan pernah menyerahkan harga diri, walau harga diri seekor lalat sekalipun yang hidup di tanah Parahyangan.

    Aku, Jayadewata Sri Baduga Maharaja Ratu Haji. Saat dinobatkan menjadi penguasa di tatar sunda, saat memiliki kemampuan untuk memberi balasan terhadap rakyat Majapahit atas kebiadaban tersebut.., tetapi aku lebih melihat trah leluhurku. Bahwa kerabat istana Majapahit adalah saudara2ku.

  16. Permadi

    Kalau di cerna dari kidung sundayana yang dituliskan oleh darmadyaksa (Bali) atas perintah Prabu Hayam Wuruk. Jelas disana tertulis saat para rombongan sunda memaki-maki Mahapatih Gajah Mada yang dianggap telah bermulut besar terhadap kesatria sunda. Pengertian bermulut besar disini maksudnya adalah Gajah Mada merasa berani dengan kesatria sunda saat berada ditempatnya sendiri (Pesangrahan bubat) sebelah utara Majapahit, dan dikelilingi ribuan prajurit. Demikian tutur kidung tsb :
    ” Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa kar?pmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

    Abasa lali po kita nguni duk kita an?kani jurit, amrang pradesa ring gunung, ?nti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

    Mantrimu kalih tinigas anama L?s Beleteng ang?masi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating bur?ngik, padâmalakw ing urip.

    Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kahar?pta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu t?mbe yen antu.

    Alihbahasa:

    * “Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain, kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.

    * Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.

    * Kedua mantrimu yang bernama L?s dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.

    * Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

    Berarti Gajah Mada sendiri sebelumnya pernah dikalahkan dalam perang melawan negeri Galuh saat didaerah Jipang. Dan dibai’t terakhir bisa kita cerna bahwa orang-orang sunda merasa tertipu oleh muslihat Gajah Mada.

  17. cappler

    saya juga berasal dari jawa barat heheheh meski saya orang betawi tp saya sangat bangga menyebut diri saya putra pasundan.
    terlebih saya senang dgn tokoh2 tanah jawa seperti ronggolawe,gajah mada.dan prabu siliwanggi
    tp semua adalah sejarah yg ga mungkin terulang lg
    kita harus bangga dgn m ereka karena mereka kita bersatu dan menjadi kuat
    jgn karna ada pihak ke 3 kita jd pecah
    toh yg menghujat mereka blm tentu orang jawa palagi indonesia mungkin aja merea itu salah satu yajuj majuj keturunan magog yg suka akan pertikaian atau perpecahan etnis tertentu.
    kewaspadaan perlu agar kita tidak mudah di adu domba… wasallam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>