Lajang tetapi bukan jalang

Kapan Kawin? Kapan Kapan

Begitulah bunyi sebuah tagline iklan rokok yang sedang marak menghiasi televisi dan sepanjang jalan di Jakarta. Divisualisasikan oleh Agus Ringgo dengan tampang uniknya menjadi pelengkap kekonyolan. Iklan yang menggelitik dan satire yang menertawakan pada kehidupan mengajak untuk menikmati kehidupan.

Seakan berpihak pada kaum lajang yang kadang jalang merasa tersanjung mengangkat masalah ini menjadi pembicaraan hangat. Masalah yang kadang menjadi perdebatan sengit. Membanding bandingkan hidup melajang dengan berkeluarga sama saja mengurai benang kusut, tidak ada titik temunya. Kadang beban itu terasa berat karena pengaruh orang-orang di sekitar kita. Orangtua kita pastinya mengharapkan kita memiliki pasangan untuk melalui kehidupan kecuali bagi yang merelakan anak anak mereka untuk melayani Tuhan menjadi biarawan. Belum juga lingkungan terdekat kita seperti mengejar kita buat cepet cepet menikah. Layaknya target yang menjadi sasaran tembak.

Beberapa hari yang lalu sempat melihat lihat rubrik iklan jodoh di sebuah terbitan ibukota berskala nasional. Yang mencari dengan kriteria yang demikian runtut, dari soal fisik, materi, dan sifat sifat yang lain. Hati kecut menertawakan diri sendiri. Berkaca pada diri sendiri karena tuntutan kehidupan yang selalu berkembang membuat menjadi narsistis. Karena ganteng harus mencari yang cantik, karena kaya harus mencari yang kaya (kalau bisa yang lebih kaya), karena gaul harus mencari gaul juga. Mencari selevel yang akhirnya selalu saja ada tembok besar menghalangi layaknya masuk dalam labirin, untuk menemukan jalan keluar yang ibaratnya menemukan kesamaan akan luar biasa rumit. Yang kadang justru tersesat terlalu dalam.

Tak adil jika hanya menilai yang lajang. Dibanding dengan hidup melajang sepertinya hidup berkeluarga pasti lebih mengasyikkan apalagi jika ditambah buah hati pasti lebih lengkap lagi. Bahagia rasanya bila hidup sempurna indah seperti itu. Tetapi setali tiga uang hidup berkeluarga pun membutuhkan lebih banyak pengorbanan. Menurut orang orang yang sudah berkeluarga mereka seperti terpenjara jiwa. Semua itu kembali dari masing-masing pasangan dalam saling mengisi dan mengontrol emosi mereka dalam menghadapi perbedaan. Janganlah kapal sampai oleng bahkan karam sebelum sampai menuju pelabuhan. Apakah anggur manis itu direguk hanya dalam hitungan hari? Perkawinan itu sakral dan bukan main main yang tidak dengan mudah dicampakkan.

Biarkan jika harus dikejar dengan orangtua, teman-teman bahkan umur yang terus menanjak naik. Dengarkan hatimu berbicara bukan dari orang lain. Perkawinan tidak harus mengalahkan segalanya dan bukan akhir dari tapal batas kehidupan, karena justru disitu adalah awal dari kehidupan sesungguhnya. Beranikah kita melangkahkan kaki ke awal kehidupan baru. Egois jika perkawinan sampai menanggalkan status prinsip atau yang lebih parah lagi karena gelimang kilau harta. Itu hanyalah cinta yang tergadai. Janganlah menjadi lajang sekaligus jalang yang mengeksploitasi kenikmatan sesaat.

Kesimpulannya hidup menjadi lajang atau menikah adalah pilihan. Masing-masing memiliki jalan dan keunikan serta resiko masing masing. Jika kita bisa mengikuti iramanya jalan terjal berbatu jika dihadapi dengan hati yang lepas akan terasa sangat menyenangkan. Ikuti saja seperti air mengalir.

Jakarta, 19 April 2007, 11:01 PM

One thought on “Lajang tetapi bukan jalang

  1. kiki kurniawan

    Ada satu hal yang di dunia ini tidak dapat dipaksakan. Itulah jodoh.

    Ada satu hal yang di dinia ini bisa dilakukan. Itulah pilihan.

    Jalang eh lajang atau menikah adalah permainan jodoh dan pilihan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>