Tentang Keuntungan

Dari tahun ke tahun kita semua mengalami perubahan. Ada perubahan yang baik ada juga yang buruk. Dengan bertambahnya umur, kesibukan, kebutuhan dan lain-lain. Perubahan yang paling banyak menimpa kita adalah jika¬† hendak melalukan sesuatu, kita selalu berpikir “apa untungnya buatku”.

Aku juga begitu, ketika aku diminta untuk melakukan sesuatu aku bertanya kepada diriku, “Apa untungnya buatku?”. Aku sadar itu tidak baik mempertanyakan hal itu tapi gimana yah… Aku berusaha untuk tidak memikirkan keuntungan apa yang diperoleh diriku tapi harus pikirkan kepentingan secara universal. Tentu saja jangan sampai merugikan diri sendiri.

So… mengapa tidak boleh bicara tentang keuntungan? Coba simak nukilan di bawah ini yang diambil dari buku: The Saying of Mencius

Mengapa Raja bicara tentang keuntungan?

Mencius pergi menghadap Raja Hui dari Liang. Raja Hui berkata: “Guru yang mulia, karena Anda datang dari jauh, saya kira Anda punya nasehat hebat yang akan menguntungkan kerajaan saya?”

Mencius menjawab: “Mengapa Yang Mulia bicara tentang keuntungan? Orang seharusnya hanya bicara tentang kebaikan dan kejujuran. Jika seorang raja berkata, ‘Bagaimana kerajaanku bisa memperoleh keuntungan?’. Seorang yang terhormat akan berkata, ‘Bagaimana keluargaku bisa mendapat keuntungan?’. Orang biasa juga akan berkata, ‘Bagaimana aku bisa mendapatkan keuntungan?’. Maka setiap orang dari kalangan atas hingga bawah akan saling bertikai demi keuntungan dan negara akan terancam.

Seperti seorang adipati dengan seribu kereta perang membunuh raja dengan sepuluh ribu kereta perang. Dan raja dengan seratus kereta perang membunuh adipati dengan seribu kereta perang. Seorang bisa puas memiliki seribu dari sepuluh ribu, atau seratus dari seribu, atau satu dari sepuluh. Tapi bila ia mengutamakan keuntungan daripada kebenaran, ia takan pernah puas sebelum mendapatkan segalanya.

Kebaikan yang agung berasal dari kebaikan dan kebenaran. Tak pernah ada orang baik yang mengabaikan orang tuanya. Tak pernah ada orang yang benar yang mengabaikan rajanya. Karena itu, Yang Mulia harus bicara tentang kebaikan dan kebenaran saja… Untuk apa Bicara tentang keuntungan?”

Ketika berbicara tentang keuntungan, orang memikirkan dirinya; tetapi orang yang baik dan benar akan memikirkan kebaikan bagi semua orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>