Olimpiade Korupsi

Semoga Tuhan memberkati negara ini.

Olimpiade Korupsi

Setelah ribut-ribut soal helipad kebanggaan orang Bogor, video mesum
orang Golkar, poligami orang Bandung, dan Pilkada Aceh yang dimenangi
orang-orang GAM, kini perhatian beralih ke Asian Games di Doha,
Qatar. Orang Indonesia ada di bawah orang Korea Utara dan Mongolia.

Dalam daftar perolehan medali sampai hari Kamis (14/12), Indonesia
berada di urutan ke-21 dengan 2 emas, 2 perak, dan 12 perunggu. Korea
Utara (Korut) ada di peringkat 16 (5-8-14), sementara Mongolia di
urutan ke-20 (2-5-7).

Walau negara mungil, Korut boleh menyombongkan diri karena sudah
menguji coba senjata nuklir. Indonesia bangsa besar yang malas
berpikir.

Berkat pembinaan ala komunis yang terencana, atlet-atlet Korut mampu
berbicara di berbagai ajang dunia. Pemimpin Indonesia hanya besar
dalam soal wacana, rakyatnya bonék semua, dan sebagian pengurus
olahraganya mendekam di penjara.

Penduduk Korut 23 juta jiwa, produk domestik bruto (PDB) 40 miliar
dollar AS, dan nyaris tak ada utang luar negeri. GDP Indonesia 977,4
miliar dollar AS, penduduknya seperlima miliar jiwa, dan pemimpinnya
gemar berkunjung ke luar negeri.

Olahragawan Korut terbiasa hidup spartan. Pengurus olahraga Indonesia
suka menyunat dana pembinaan sehingga kondisi ekonomi atlet pas-
pasan.

Luas Korut 120.000 kilometer persegi atau 1/16 dari wilayah Indonesia
yang 1,9 juta kilometer persegi. Mereka menepuk dada karena memenangi
Perang Korea, kita bangga menyerbu saudara yang berbeda agama.

Atlet Korut senang makan bawang putih setiap hari. Atlet Indonesia
sering lari ke toilet saat pertandingan berlangsung karena gemar
melahap sambal.

Atlet Mongolia ahli di cabang yang memerlukan konsentrasi karena
telah terbiasa semedi sejak usia dini. Tak ada pemimpin yang
bersemedi sambil berendam di sungai, tak ada tokoh agama yang
berpoligami.

Atlet Mongolia hebat di cabang berkuda karena dulu mempunyai Gengis
Khan yang menaklukkan sebagian besar wilayah Asia. Indonesia kini
dikenal sebagai “orang sakit dari Asia”.

Mongolia jagoan di cabang gulat. Sepanjang pengetahuan saya tak ada
politisi di sana yang tertangkap basah saat sedang “bergulat”.

Thailand kini menjadi raja olahraga di Asia Tenggara. Jangan-jangan
prestasi mereka semakin maju karena tentaranya sering melancarkan
kudeta.

Singapura banyak untung dari kita. Konglomerat hitam kabur ke sana,
pejabat jual pasir ke sana, dan orang-orang kaya membeli apartemen
mewah yang dibangun di pantai hasil reklamasi dengan pasir selundupan
dari Indonesia.

Dulu orang Malaysia berguru ke sini. Lagu kebangsaan mereka konon
meniru dari lagu tradisional kita yang potongan liriknya
berbunyi, “Terang bulan, terang di kali/Buaya hidup, disangka mati.”

Kita sudah sering dipecundangi Vietnam, negara yang ibarat anak
balita yang baru belajar berjalan. Kita bangsa cepat tua sebelum
matang untuk menjadi orangtua.

Untuk mengobati kekecewaan Anda, Jakarta jadi tuan rumah 2010
Corruption Olympic Games, lomba korupsi yang pertama dalam sejarah.
PBB, Uni Eropa, dan ASEAN sepakat Jakarta jadi penyelenggara karena
reputasi korupsi kita.

Indonesia dinilai cocok jadi tuan rumah karena korupsi di sini sudah
jadi budaya. Apalagi harga pemimpinnya dianggap murah dan situasi
Jakarta kacau-balau karena setiap orang—mulai dari gubernur sampai
gembel—bertindak sesuka hati.

Olimpiade Korupsi diselenggarakan Indonesian Quarter-Jakarta
Organising National Group On Corruption Olympic Committee. Kalau
disingkat jadi IQ-JONGCOC alias “aikyu jongkok.”

Tema olimpiade bersejarah ini “Together We Can”. Apakah bisa
diterjemahkan menjadi “Semua Bisa Diatur” atau “Bersama Kita Bisa”,
itu terserah Anda.

Olimpiade mengenal nomor lari, lempar-lontar, dan loncat. Olimpiade
korupsi mempertandingkan nomor Buronan Lari, Lempar Kesalahan, dan
Kutu Loncat.

Emas Buronan Lari direbut Sudjiono Timan, emas Lempar Kesalahan
digaet yang terlibat “VoucherGate”. Emas Kutu Loncat untuk dia yang
tak terima kekalahan di pilkada gubernur meski gonta-ganti partai.

Olimpiade mengenal loncat indah, di Olimpiade Korupsi ada Wacana
Indah. Medali emas direbut dia yang sering memberikan angin surga
kepada kita.

Olimpiade mempertandingkan berbagai nomor senam. Di Olimpiade Korupsi
ada dua nomor andalan, yakni Senam Poligami serta Senam Zaini.
Pemenangnya Anda tebak sendiri.

Di olimpiade normal banyak nomor bela diri. Di Olimpiade Korupsi emas
nomor Bela Menteri Kelautan direbut Indonesia, menteri pertahanan
meraih emas nomor Bela TNI, dan pemerintah menggaet emas nomor Bela
Pengusaha.

Indonesia menyapu bersih emas dua cabang unggulan cabang bola, yakni
Sepak Rakyat dan Pingpong Birokrasi. Tim Sepak Rakyat terdiri dari
para anggota DPR, sedangkan tim Pingpong Birokrasi diperkuat lurah,
camat, sampai bupati.

Olimpiade mengenal angkat besi, di Olimpiade Korupsi ada Angkat dan
Jilat. Peraih emasnya pembisik di sekitar Anda.

Emas nomor Menembak BUMN direbut mereka yang disiapkan memeras BUMN
untuk menyambut Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2009. Perak
diraih para penjual aset berbagai BUMN ke luar negeri.

Indonesia menjadi juara umum karena merebut semua medali emas. Bangga
rasanya melihat Merah Putih berkibar dan Indonesia Raya berkumandang
di berbagai arena.

Merdeka! Ah, belum.

Sumber: Kompas – Sabtu, 16 Desember 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>