Lisensi oh Lisensi

Kemarin aku ketemu dengan teman-teman lama di pernikahan Licu. Kita ngobrol tentang kerjaan dan apa yang lagi kita lakukan. Ada satu topik obrolan yang membuat aku resah. Ini masalah HAKI. Pihak BSA telah memberikan perintah kepada kepolisian untuk melakukan razia software-software di kantor-kantor. Polisi-polisi khusus ini dikenal dengan nama Bareskrim (badan resort kriminal)dilatih dan dilengkapi dengan pengetahuan untuk memeriksa lisensi software yang hendak dirazia oleh BSA. Bareskrim dapat mengetahui apakah lisensi software yang digunakan itu sah atau tidak. Bareskrim juga mengecek berapa lisensi koneksi server dan berapa banyak koneski ke server dari active directory windows.

Bareskrim akan mengirimkan surat peringatan sebelum merazia. Di dalam surat itu dibeberkan pasal-pasal yang menyangkut pelanggaran HAKI dan setelah itu mereka datang memeriksa. Dan mungkin saja Bareskrim merazia tanpa surat peringatan. Siapa yang tau? Mereka datang dalam jumlah yang besar, setiap orang telah mahir dan mengetahui tugas masing-masing. Mereka langsung memeriksa setiap komputer. Kalau ketemu komputer yang memakai aplikasi yang tidak memiliki lisensi, komputer itu akan diangkut, kantor/orang yang bertanggung jawab akan dikenakan denda dan atau masuk penjara. Kalau kebanyakan komputer tidak memiliki lisensi, well.. mereka periksa no more, perintah angkut semua keluar. Manajer IT dan owner akan diseret ke balik jeruji. Hmmm nanti kalau mau cari manajer IT harus cantumin syarat, BERANI KELUAR MASUK PENJARA. Hal ini terjadi di sebuah perusahaan dengan 150 CPU tanpa lisensi. Manajer, owner dan 150 CPU diangkut ke kantor polisi. IT’S TRUE. MAU COBA?

Mari kita hitung kerugian, misalkan ada 50 CPU desktop dan 3 CPU server, kita ambil 1 CPU desktop = Rp4.000.000 dan 1 CPU server = Rp6.000.000. Totalnya Rp218.000.000. Well ini kerugian yang kelihatan, bisa kita beli cari lagi kalau kita punya uang. BTW sudahkah menghitung harga isi hardisk?

Berapa harga database customer yang telah dikumpulkan? Tidak ada harganya.
Berapa harga database keuangan dan penjualan? Tidak ada harganya.
Berapa harga source code aplikasi? Tidak ada harganya.
Berapa harga file-file lainnya? Tidak ada harganya.
Bagaimana kita membeli sesuatu yang tidak punya harga? Tidak punya harga bukan tidak berharga.

Mari kita hitung biaya lisensi aplikasi yang sedang kita gunakan.

Nama Software Jumlah @Unit (Usd) Total (Usd)
Windows XP Home 50 89 4.450
Windows 2003 Server 3 2300 6900
W2K3 Server CAL 50 50 30 1500
Software Development 1 1000 1000
Office Application ??? 230 ???
SQL Server 2000 ??? ??? ???
SQL Server 2000 CAL ??? ??? ???
Software email ??? ??? ???
Software lain-lain ??? ??? ???

CAL = Client Access License

Harganya cukup menggetarkan hati, mengosongi kantong. Tapi setidaknya dengan membeli lisensi-lisensi kita terbebas dari beban dihantui oleh polisi-polisi HAKI. Dan kita bisa bekerja dengan tenang. Memangnya selama ini aku kerja nggk tenang? Ya setelah dengar berita ini aku jadi nggak tenang.

Selain dengan membeli lisensi, kita bisa menggunakan software dengan lisensi GPL atau GNU. Software tersebut gratis tapi tidak memiliki support. Untuk support kita harus mengorek kocek. Tapi tidak semua sistem dapat menggunakan software lisensi tersebut. Misal untuk server akunting dengan aplikasi akunting berbasis Win32 tidak bisa menggunakan OS berbasis LINUX. Untuk pindah dari sistem yang lama ke yang baru juga tidak mudah karena akan menimbulkan culture shock. Temanku melakukan migrasi word processing dari Ms Office ke Open Office (OO). Setelah end-user menggunakan OO, OO berubah nama menjadi OON (baca: oon, goblok). Untuk copy paste saja lama, untuk bikin table lama. Semua jadi lama. Yah ini masalah lagi ya.

Software Software Komersial Software GPL/GNU Effect
OS Windows XP Home LINUX Culture shock
Word processing Ms Office 2003 Open Office (OO) Culture shock, OO menjadi OON
Server IIS OpenIIS Unstable, Compatibilitas

Solusi lain, kita harus tebang pilih. Pilih siapa saja yang menggunakan software komersial dan GPL/GNU. Tiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Dengan dua sistem yang berbeda, support-nya juga menjadi dua kali lebih berat. Solusi lain lagi? Thin client. Masih banyak solusi kok kalau mau dicari dan kalau ada waktu.

Apapun yang kita pilih, aku hanya berharap bisa bekerja dengan tenang, tidak dihantui kalau bareskrim datang merazia dan mengangkut semua komputer yang berisi kerjaanku. Bisa jadi aku juga ikut diangkut ke kantor polisi. Wah kalau ini terjadi bisa nangis bombay. Di mataku para bareskrim itu seperti malaikat pembawa petaka yang bisa datang kapanpun juga. So be prepare from today. Mengingat apapun yang bisa terjadi alangkah baiknya kalau kita setiap hari membackup data kerjaan di eksternal hardisk masing-masing.

Dari tadi kutulis yang negatif-negatif mulu. Di dunia ini semua punya dua sisi atau lebih. Masalah ini juga ada sisi positifnya. Bagi aku seorang programer tentu dapat merasakan sisi positifnya. Karena dengan adanya kebijakan pemerintah seperti ini nilai programer akan naik. Programmer lebih dihargai. Aku berkata begini karena aku merasa progrmer di Indonesia tidak dihargai selayaknya. Masa ada yang bisa bilang begini, elu mau bikinin gue software dengan harga gini nggak? Di glodok kan software hanya seharga Rp25.000. Nah loh! Ini terjadi karena primitifnya pola pikir kita di bidang HAKI. Banyak yang berpikir elu kan belajar atau bikin aplikasi ini itu nggak usah pakai modal banyak tinggal keluarin uang Rp25.000-Rp50.000 sudah dapat software development tools lisensi GPL (Glodok Punya Lisensi alias BAJAKAN).

Sebaiknya kita harus cari jalan keluar untuk masalah ini sedini mungkin karena kalau sudah dapat surat cinta dari polisi semua akan kacau balau dan biaya untuk lisensi menjadi mahal karena waktu itu fokus kita adalah menyelamatkan diri. Kalau dari sekarang kita bisa fokus startegi dipenekanan harga untuk lisensi dan membuang software yang tidak kita butuhkan dari CPU masing-masing. Kalau kita butuh berarti telah ada kasus. Ingat virus. Waktu tidak terkena virus kita tidak perlu lisensi update antivirus. Kalau sudah kena baru kita butuh lisensi untuk update antivirus.

3 thoughts on “Lisensi oh Lisensi

  1. embod

    Pakai opensource lelet? Kalau anda programmer ya bantulah agar bisa tambah kenceng.
    Kalo anda user, mau cepet kok nyarinya yang gratis.

  2. vb

    Sebenarnya harga software tidak mahal. Bila dihitung dari gaji orang Amerika.
    Gaji minimum disana $2.000. XP Home $89, sekitar 5%.
    Gaji minimum di Jakarta 1jt, jadi harga XP Home harusnya 50rb.
    Lah !!! Sama dengan di Glodok donk ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>