Prabu Judistira

252913245_310af42607Prabu Judistira seorang radja di Amarta, putera Prabu Pandudewanata, ialah Pendawa jang tertua. Pada masa mudanja bernama Puntadewa.

Judistira seorang jang sabar sekali hingga disebut, orang, ia berdarah putih, karena tak pernah marah. Karena sifatnja itu, Judistira terdjauh dari pada bahaja.

Judistira mempunjai pusaka surat Kalimahusada, jang kesaktiannja mendjauhkan seteru, menjelamatkan diri dll. Sebaliknja surat itu akan berbahaja pada siapa jang bermaksud djahat kepada Kalimahusada. Tetapi dalam lakon, surat Kalimahusada itu pernah dikuasai oleh orang jang menjimpannja mendjadi djaja.

Judistira tak pernah berperang. Dalam perang Beratajuda ia diangkat mendjadi pahlawan, tetapi sangat mendjengkelkan saudara2nja Pendawa, karena ia segan melawan musuhnja. Maka terpaksa dibantu oleh Ardjuna, dengan mendorong anak panah jang dilepaskan oleh Judistira dengan anak panah Ardjuna, hingga musuh itu kalah.

Judistira dan sekalian saudara Pendawa menemui adjalnja dengan sempurna sehabis perang Beratajuda.

Prabu Judistira bermata djaitan, hidung mantjung, muka tenang, lebih tenang dari pada waktu masih mudanja (Puntadewa). Bergelung keling, bersunting waderan. Setelah ia bersemajam sebagai radja, membuangkan segala pakaian jang serba keemasan dan permata. Maka ia seorang radja jaag sangat bersahadja.

Prabu Judistira berwanda : 1 Putut. 2 Manuksma, 3 Djimat dan 4 Deres.

Sumber:
Sedjarah Wajang Purwa
Pak Hardjowirogo
P.N. Balai Pustaka

Judistira Yang paling aku kagumi dari tokoh Pandawa ialah Judistira. Kagum dengan kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan, keadilan, kesabaran, dan kebijakan.

Sangking jujurnya dipercaya kalau kereta perang yang digunakannya tidak menyentuh tanah alias melayang. Sebelum perang Baratayudha pecah Judistira masih mencari damai dengan pihak Kurawa dan meminta hanya lima desa untuk masing-masing Pandawa sebagai ganti haknya atas separoh Negara Hastina. Tetapi tidak digubris oleh pihak Kurawa.

Ketika perang Baratayudha hendak dimulai, berjalan sendirilah Judistira ke dalam barisan pasukan Kurawa untuk meminta restu dan izin memulai perang kepada tetua-tetua dan gurunya (Bishma, Dorna, Salja, dll).

Namun yang paling aku kagumi dari Judistira yaitu pada saat menjawab pertanyaan terakhir dari Batara Yama mengenai siapakah yang hendak dihidupkan dari seluruh saudaranya tewas karena minum air telaga. Beginilah ceritanya:

Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke tanah terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin cemerlang. Dan di pinggir telaga ia melihat keempat saudaranya tergeletak tak bergerak. Dihampirinya satu per satu, dirabanya kaki, tangan, dahi, dan denyut jantung mereka. Yudhistira berkata dalam hati, “Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku. Rupanya para dewata hendak membebaskan kita dari kesengsaraan.”

Menatap wajah Nakula dan Sahadewa, pemuda-pemuda yang di masa hidupnya periang dan perkasa tapi kini terbujur dingin tak bergerak, hati Yudhistira sedih. “Haruskah hatiku terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku? Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati? Untuk apa aku hidup? Aku yakin, ini bukan peristiwa biasa,” gumam Yudhistira. Ia tahu, tak seorang kesatria pun akan mampu membunuh Bhima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat.

“Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang yang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai.” Hatinya terus bertanya-tanya. “Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekasbekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian. Ini pasti peristiwa gaib. Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhana? Mungkinkah Duryodhana telah meracuni air telaga ini?”

Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. la ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, “Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan hausmu. Telaga ini milikku.”

Yudhistira yakin, suara itulah yang menyebabkan saudara-saudaranya mati. Pikirnya, ini pasti suara yaksa. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemudian Yudhistira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu.

Yudhistira: “Silakan ajukan pertanyaanmu.”
Suara gaib: “Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?”
Yudhistira: “Kekuatan Brahman.”
Suara gaib: “Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?”
Yudhistira: “Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya.”
Suara gaib: “Mempelajari ilmu apakah yang bisa membuat manusia jadi bijaksana?”
Yudhistira: “Orang tidak menjadi bijaksana hanya karena mempelajari kitab-kitab suci. Orang menjadi bijaksana karena bergaul dan berkumpul dengan para cendekiawan besar.”
Suara gaib: “Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia dari pada bumi ini?”
Yudhistira: “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini.”
Suara gaib: “Apa yang lebih tinggi dari langit?”
Yudhistira: “Bapa.”
Suara gaib: “Apa yang lebih kencang dari angin?”
Yudhistira: “Pikiran.”
Suara gaib: “Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas?”
Yudhistira: “Hati yang menderita duka nestapa.”
Suara gaib: “Apa yang menjadi teman seorang pengembara?”
Yudhistira: “Kemauan belajar.”
Suara gaib: “Siapakah teman seorang lelaki yang tinggal di rumah?”
Yudhistira: “Istri.”
Suara gaib: “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”
Yudhistira: “Dharma. Hanya Dialah yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kematian.”
Suara gaib: “Perahu apakah yang terbesar?”
Yudhistira: “Bumi dan segala isinya adalah perahu terbesar di jagad ini.”
Suara gaib: “Apakah kebahagiaan itu?”
Yudhistira: “Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik.”
Suara gaib: “Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya?”
Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya.”
Suara gaib: “Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih?”
Yudhistira: “Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan.”
Suara gaib: “Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya?”
Yudhistira: “Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya.”
Suara gaib: “Apakah yang membuat orang benar-benar menjadi brahmana? Apakah kelahiran, kelakuan baik atau pendidikan sempurna? Jawab dengan tegas!”
Yudhistira: “Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana; hanya kelakuan baik yang membuatnya demikian. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak akan menjadi brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan jeleknya. Betapapun dalamnya penguasaannya akan kitab-kitab suci, tapi jika kelakuannya buruk, ia akan jatuh ke kasta yang lebih rendah.”
Suara gaib: “Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?”
Yudhistira: “Setiap orang mampu melihat orang lain pergi menghadap Batara Yama, namun mereka yang masih hidup terus berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Itulah keajaiban terbesar.”

Demikianlah yaksa itu menanyakan berbagai masalah dan Yudhistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan yaksa itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.

Suara gaib: “Wahai Raja, seandainya salah satu saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih? Dia akan hidup kembali.”
Yudhistira: (Berpikir sesaat, kemudian menjawab.) “Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati.”
Suara gaib: (Belum puas akan jawaban Yudhistira, yaksa itu bertanya lagi.) “Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bhima yang kekuatan raganya enam belas ribu kali kekuatan gajah? Lagi pula, kudengar engkau sangat mengasihi Bhima. Atau, mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula!”
Yudhistira: “Wahai Yaksa, dharma adalah satu-satunya pelindung manusia, bukan Bhima bukan Arjuna. Apabila dharma tidak diindahkan, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri avahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi Dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarkan Nakula, putra Dewi Madri, hidup bersamaku.”

Yaksa itu puas sekali mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Akhirnya, yaksa itu menghidupkan kembali semua saudara Yudhistira.

Ternyata, menjangan dan yaksa itu adalah penjelmaan Batara Yama, Dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin dan dharma Yudhistira.

Batara Yama berdiri di depan Yudhistira lalu memeluknya sambil berkata, “Beberapa hari lagi masa pengasinganmu di hutan rimba akan selesai. Di tahun ketiga belas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itu pun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuh pun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini. Dharma akan selalu menyertaimu, Yudhistira. Setelah berkata demikian, Batara Yama menghilang.

Pengalaman Arjuna dalam perjalanan mencari senjata pamungkas yang sakti, pengalaman Bhima bertemu dengan Hanuman dan Dewa Ruci, dan pengalaman Yudhistira bertemu dengan Batara Yama, menambah kekuatan jasmani, keyakinan batin serta kemuliaan rohani Pandawa. Secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama mereka semakin tekun menjalani dan mengagungkan dharma.

Sumber:
Mahabrata
Nyoman S. Pendit
PT Gramedia Pustaka Utama

One thought on “Prabu Judistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>