GGGGGGGGGGGGGGGGGGGG Bandung | Nukilan Hidup

Thursday, September 9th, 2010

Bandung

0

1156335Tak sampai lima kilometer ke tenggara, melalui lapangan terbang Andir, Jalan Raya Pos sampai ke Bandung, di sebuah dataran tinggi bekas kawah purba. Ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut. Kota Bandung sendiri semasa kolonial dimashurkan sebagai Parijs van Java, juga pusat kemiliteran sejak awal abad 20. Semasa Orde Baru memang bukan lagi pusat kemiliteran karena seluruh daratan Indonesia telah diduduki oleh militer. Tentu saja bukan militer Kompeni, bukan militer Hindia Belanda, tetapi militer Orde Baru. Bandung, ibukota Priangan, semasa era kemerdekaan nasional juga mashur di dunia, sebagai ibukota Asia-Afrika, karena di sinilah untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 1955.

Di sebelah utara dan sebelah selatan dataran tinggi berjajar gunung-gunung api yang telah lama mati. Tetapi di dalam kota Bandung sendiri berjajar bangunan-bangunan peninggalan kolonial dan bangunan baru semasa kemerdekaan. Di antara gedung-gedung terdapat sebuah yang diarsiteki Bung Karno sendiri.

Bandung juga dikenal sebagai kota “Lautan Api” karena semasa Revolusi kota ini menjadi “Lautan Api” dalam mempertahankan kemerdekaan nasional. Priangan Si Jelita yang ribuan tahun hidup dalam kedamaian nyatanya tak segan berlumuran dan terbakar demi kemerdekaan nasional. Setiap orang Indonesia kenal lagu revolusi Halo-halo Bandung itu. Sekali-sekali juga diperdengarkan di forum-forum internasional.

Bahwa Bandung terkenal juga sebagai ibukota Asia-Afrika memang bukan suatu kebetulan. Setelah usai Perang Dunia II, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai pelopor Asia Afrika yang membebaskan diri dari kolonialisme. Vietnam pada 15 Agustus r94S dan Indonesia dua hari setelah itu, 17 Agustus 1945. Vietnam dan Indonesia telah membuktikan, bangsa jajahan bisa memerdekakan diri dari kekuasaan kolonial Dunia Utara. Maka sejak itu Asia-Afrika bergolak untuk juga memerdekakan dirinya. Tanpa keberhasilan dua negara pelopor ini sulit dibayangkan gerakan-gerakan kemerdekaan di Dunia Selatan bisa sukses. Sayang perjuangan mereka tidak semua segera berhasil. Perang Dunia II segera disusul oleh Perang Dingin Timur-Barat, Komunisme versus Kapitalisme, perang memperebutkan keunggulan sistim politik dan ideologi dan tata dunia. Dan bila telah menyangkut ideologi maka lenyaplah batas-batas ketatanegaraan, regional, internasional maupun nasional, karena dia hidup dalam benak pribadi perorangan. Dalam Perang Dingin antara Timur dan Barat, Dunia Kedua dan Dunia pertama, Soekarnolah yang menemukan Dunia Ketiga, Dunia Harapan yang terbebas dari konflik Timur-Barat, Komunisme-Kapitalisme. Konsekuensi dari penemuan Dunia Ketiga adalah mengkonsolidasi semua gerakan kemerdekaan di Asia-Afrika dan mengabarkan dampak Perang Dingin yang menjalari seluruh dunia, manusia penjajah dan manusia jajahan sekaligus. Pandangan jauh Soekarno yang membuat Indonesia menjadi mercusuar Asia-Afrika. Dan ini bukan penampilan Soekarno yang pertama dalam sejarah ummat manusia. Penampilannya yang pertama adalah semasa muda ia merintis dan berhasil dengan gemilang melahirkan nasion Indonesia, dan bukan tanpa hambatan dan hadangan, namun tanpa mengucurkan setetes darah pun seperti terjadi pada bentukan nasion-nasion lain di luar Indonesia. Dakwaan Sekutu, pemenang Perang Dunia II, bahwa Soekarno adalah “war criminal” di samping Hatta yang “collaborator” Jepang, buyar tanpa bekas. Dalam masa pendudukan militeris Jepang, bukan tanpa mempertaruhkan jiwanya, ia pergunakan kelemahan Jepang yang membutuhkan bantuan kaum nasionalis, untuk melakukan pendidikan politik secara massal, yang tak pernah bisa terjadi semasa kolonial Hindia Belanda, dan secara psikologis menaikkan harga diri manusia Indonesia di hadapan hegemoni kekuasaan-kekuasaan penjajah Barat. Semua yang diupayakan, barang tentu dengan sejumlah kelemahan dan kesalahan, menemukan muaranya pada kemerdekaan nasional pada 17 Agustus 1945, dan tanpa mengucurkan darah setetes pun. Suatu unikum dalam sejarah ummat manusia. Bukan kebetulan bila negara-negara penjajah atau bekas penjajah di Dunia Utara tidak menyukai Soekarno, apalagi antek-anteknya di dalam negeri Indonesias endiri, yang hidup dari kesetiaannya pada bekas majikan. Itu sebabnya sampai sekarang pun semua anti-Soekarno digabung jadi satu ikatan masih tetap tanpa arti di hadapan Soekarno, sekali pun berhasil dibikin almarhum sebagai tahanan Orde Baru.

Gelar Bandung sebagai Parijs van Java jelas menerangkan, bahwa sudah sejak semula tempat ini jadi tujuan wisata. Maka wajar-wajar saja bila lahir lagu puji-pujian yang dipersembahkan pada “mojang Priangan” pada umumnya dan gadis Bandungpada khususnya, sebagaimana dituangkan dalam lagu melankolis “Panon Hideung” alias “Mata Hitam”. Berpuluh tahun lagu ini berkumandang di darat, laut, dan udara. Dalam tahanan di penjara Bukitduri, waktu aku belajar lagu-lagu Eropa dan Amerika dari seorang perwira TNI, juga tahanan, untuk pertama kali kudengar dari mulutnya, bahwa “Panon Hideung” bukan lagu asli Sunda; itu nyanyian orang-orang Rusia Putih emigran setelah terlanda Revolusi Bolshewik. Kemudian ia menyanyikan dalam terjemahan Inggris berjudul “Far over the Sea”. Dalam pembuangan di pulau Buru, 1972, seorang organisator buruh sekaligus peserta pendiri Pertamina, R.P.R. Situmeang, dengan alasan apa aku tak pernah tanyakan, memberikan sanggahan: Yang benar bisa sebaliknya, “Far over the Sea” boleh jadi mengambil dari “Panon Hideung, melodinya”. Sebenarnya tidak sulit untuk melacak mana yang lebih tua. Tetapi niasa penahanan dan pembuangan tak memberi kesempatan. Masa bebas pun ternyata juga tidak, karena disibuki hal-hal lain. Yang jelas pada tahun belasan abad ini memang ada beberapa orang Rusia Putih yang bergerak di bidang panggung Indonesia secara profesional. Tanpa penyelidikan sejarah, authentisitas dan antisitasnya, sulit menunjuk orang Rusia tersebut sebagai matarantai penghubung.

Bandung juga terkenal dengan julukan Bumi Sangkuriang. Sangkuriang adalah tokoh pria yang mencintai wanita yang kemudian ternyata ibunya sendiri. Oedipus Rex gaya Sunda. Walau tidak banyak memang ada legenda-legenda dunia yang menyusup jadi legenda setempat di Indonesia. Bagaimana Oedipus Rex sampai ke Priangan dan melalui jalan apa dan seberapa lama dalam perjalanan, juga belum terselidiki sampai tuntas. Setidak-tidaknya Oedipus Rex juga menyusup ke sebelah timur Priangan, di Jawa Tengah dengan nama lain.

Bagiku sendiri, Bandung memang tempat yang tak dapat dilupakan baik dalam hubungan dengan segala sesuatu dengan Konferensi A-A maupun pertemuan-pertemuan pribadi. Tetapi yang paling mengesankan adalah kejadian 4 tahun setelah konferensi tersebut, 1959. Waktu itu diadakan Konferensi Nasional Komite Perdamaian Indonesia. Pembicara utama tentu saja Bung Karno, Presiden Republik Indonesia. Kemudian juga Ruslan Abdulgani, yang semasa rezim Soekarno mendapat julukan jubir Usman, yang artinya kurang lebih jurubicara tentang ideologi negara. Aku mendapat giliran menyampaikan pikiranku khusus mengenai aspek budaya. Aku yakin pidatoku tidak punya sangkutpaut dengan kejahatan atau semacamnya, politis, atau pun sosial. Apa yang terjadi? Begitu turun dari mimbar tiga orang tentara telah menyambut untuk menyampaikan perintah: menghadap ke Kodam Bandung. Kusanggupi akan datang dan mereka pergi. Langsung kutarik isteriku dari barisan kursi hadirin dan kubawa pulang ke Jakarta.

Ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di Jakarta surat panggilan Kodam Bandung dimutasikan pada Kodam Jakarta. Berkali-kali panggilan datang, dan aku tak pernah berniat akan datang. Beberapa minggu setelah konferensi tersebut kuterima surat lain, dari Komite Perdamaian Indonesia: menurut keputusan konferensi aku diangkat jadi anggota dewan ketua komite…

Sumber:
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara

Related posts:

  1. Batavia
  2. Depok

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!