Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

jrp-jd2

Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

-Pramoedya Ananta Toer-

Di atas adalah kata-kata dari Pram. Dari bukunya “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” disimpulkan bawha kita adalah bangsa kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa yang penguasanya lebih asik memupuk-mupuk ambisi berkuasa daripada mengerai kesejahteraan bagi warganya. (hal 6).

Pram menulis buku ini dengan nuansa mengalir dan tidak dibagi ke dalam bab tetapi dibagi berdasarkan kota-kota sepanjang Jalan Pos yang dilewati olehnya. Pram menceritakan sejarah kota secara detail dan beberapa kenangan pribadinya di kota-kota itu.

Genosida

Setelah membaca buku itu aku menjadi bingung. Apakah Daendels jahat atau sebaliknya berjasa kepada Jawa? Jahat karena untuk membangun jalan yang menghubungi kedua ujung Jawa Daendels mengorbankan puluhan ribu pribumi. Mereka dipaksa kerja dengan upah minim atau tanpa upah sama sekali. Di lain pihak dikatakan berjasa karena dengan jalan itu membuat Jawa lebih mudah diakses dan waktu tempuh menjadi lebih singkat.

Pram sering menyingung masalah genosida di buku ini. Yang dilakukan oleh Daendels adalah genosida yang tidak langsung. Banyak genosida langsung dan tidak langsung yang dilakukan oleh bangsa lain terhadap pribumi. Tetapi genosida yang terbesar dilakukan oleh bangsa sendiri pada awal Orde Baru.

Korupsi Warisan Belanda

Korupsi sudah ada sejak 300 tahun yang lalu. Dan sangat mengakar di kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan sistem feodal Pribumi yang vertikal. Orang yang berada diatas susunan tersebut berhak mendapat upeti dari bawahannya, dan hal itu bukan merupakan kejahatan. Celakanya ada dari kalangan rakyat jelata yang merasa bersyukur bila dapat mempersembahkan upeti sampa di luar batas kemampuannya kepada para pembesaranya sendiri. So gimana mau melawan korupsi yang sudah mendarah daging?

Bagaimana Petani Jawa Hidup?

Kehidupan petani pada tahun 1809 sangat-sangat menyedihkan. Petani sekarang? Tidak jauh berbeda. Pada masa itu petani hanya dapat menikmati seperempatbelas dari hasil panennya. Tiga belas perempatbelas untuk membiayai tata-susunan feodal Pribumi sendiri, kekuasaan kolonial, dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Sisa yang seperempatbelas itu untuk kepentingan pribadi dan keluarganya masih harus membayar mahal pada para pemegang monopol pasar, pejagalan, madat, dan lain-lain.

Dari Raja Belanda sampai Dewan Hindia dan Gubenur Jendral, Residen dan birokrasinya, Bupati sampai pamong desa terendah, semua hidup dari penghasilan petani. Jadi, bagaimana petani Jawa bisa hidup? Orang Inggris menjawab sendiri: karena kesuburan tanahnya. Justru karena itu petani sebagai lapisan terbawah masyarakat tidak boleh menjadi bebas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>