Abraham Lincoln

abraham-lincoln-pictureAda sebuah kisah klasik tentang Abe Lincoln yang dengan jelas membuktikan, bahwa kasih itu praktis, bahwa rekonsiliasi itu mungkin, dan bahwa pengampunan adalah obat penawar luka kemanusiaan yang paling mujarab. Kisahnya adalah ketika Abe melakukan kampanye kepresidenan. Saingannya yang paling utama adalah seorang yang bernama Stanton. Stanton ini sangat membenci Lincoln. Ia memakai setiap kesempatan sekecil apa pun untuk menjatuhkan musuhnya, kalau perlu dengan fitnah. Tapi akhirnya Abe yang terpilih.

Ketika tiba saatnya presiden terpilih tersebut menentukan susunan kabinetnya, ia membuat pembantu – pembantu terdekatnya terhenyak, terutama tatkala ia memilih Stanton sebagai menteri yang memegang posisi terpenting waktu itu, yaitu menteri peperangan. Penasihat demi penasihat bergantian mengingatkan Lincoln, memprotes pilihan sang presiden. Tapi Lincoln tetap pada pendiriannya.

Sikap kenegarawanannya nampak sekali ketika ia berkata, “Ya, saya tentu mengenal Tuan Stanton, serta menyadari semua hal buruk yang pernah ia katakan mengenai saya. Tapi setelah mempertimbangkan kebaikan seluruh negara, saya tiba pada kesimpulan bahwa ialah orang yang paling baik untuk jabatan tersebut.”

Pilihan Lincoln terbukti tidak meleset. Stanton menjadi menteri yang paling baik, dan pembantu Lincoln yang paling setia. Ketika beberapa tahun kemudian, Abe mati terbunuh, dari semua komentar terbaik tentang Lincoln, komentar Stanton adalah yang terbaik. Ia berkata, “Lincoln akan tetap hidup dari masa ke masa,” “He now belongs to the ages.”

Kehebatan kuasa kasih juga diperlihatkan oleh Lincoln, dengan kata-katanya yang tetap lembut kepada lawan-lawannya, juga sewaktu permusuhan antara Utara dan Selatan sedang keras-kerasnya. Ketika seorang wanita bertanya, bagaimana ia dapat melakukannya, Abe menjawab, “Nyonya, bukankah aku justru menghancurkan musuh-musuhku, ketika aku mampu mengubah mereka menjadi teman?”

Sumber: unknown

One thought on “Abraham Lincoln

  1. Bayu Aji

    Saat menjadi pengacara dan mengerjakan kasus yang sama, Lincoln diajak ke kamar pengacara yang lain, Edwin M. Stanton. Saat itu Lincoln menunggu di luar kamar hotel. Stanton yang perawakannya pendek dan penampilannya garang, memandangnya dan berkata dengan suara keras : “Apa yang dilakukannya disini? Singkirkan dia. Aku tidak mau bekerja sama dengan monyet canggung seperti itu! Kalau aku tidak disediakan orang yang penampilannya rapi untuk menangani kasus ini, lebih baik aku mundur.”
    Lincoln tetap diam dan pura-pura tidak mendengar. Lincoln saat itu memang terlihat seperti orang udik yang canggung, yang mengenakan pakaian yang kasar dan tidak karuan. Celana panjangnya tidak cukup panjang untuk menutupi mata kakinya dan dia mengenakan kain linen yang bernoda keringat.
    Saat itu kasus dimenangkan dengan argumentasi brillian dari Stanton. Dan Lincoln sama sekali tidak dilibatkan dalam penyelesaian kasus itu. Lincoln melupakan harga dirinya yang terluka ketika memperhatikan logika brilian Stanton yang membuatnya terpana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>